Di Balik Tantangan Selalu Ada Harapan

Kata-kata Petrus memang diterima sebagai ungkapan penuh sukacita dan kebahagiaan. Kemah harus dibangun agar ‘kemesrahan puncak gunung tidak boleh berlalu, melainkan tetap bertahan.’ Kita selalu ingin bahwa ‘kemesrahan atau kebahagiaan itu janganlah cepat pergi atau berlalu.’

Tetapi hitunglah kisah-kisah hidup kita yang banyak  juga ‘sakit hati dan penuh tantangan.’ Tetapi justru kisah-kisah itu mesti dilewati dan tak boleh kita abaikan begitu saja. Bacaan Injil diawali dengan kalimat pembuka: “Sekali peristiwa Yesus berbicara tentang bagaimana Ia akan menderita……”

Transfigurasi itu diawali dengan kisah derita, tantangan dan kisah yang menyakitkan! Lihatlah kerja kita di sawah ladang, bahwa usaha, kerja keras, pengorbanan bahkan penderitaan mesti kita lewati untuk dapatkan keadaaan sawah dan ladang menjadi subur, segar dan menghijau.

Salah satu kecerdasan spiritual jelaskan pada kita bahwa kebahagiaan itu selalu diawali saat-saat berat dalam penderitaan, namun kita penuh kesetiaan dalam iman berjuang untuk menghadapinya.

Ketika, Renungkan tokoh-tokoh penuh iman seperti Ayub, yang pada akhirnya dibenarkan Tuhan setelah ia hadapi sekian banyak ujian hidup dan penderitaan. Renungkan kisah Bunda Maria, yang tahu menghadapi ramalan Simeon, “Sebilah pedang akan menembus jiwamu” (Lukas 2:35). Maria telah menjadi Bunda yang bertahan bersama derita Puteranya hingga di kaki salib. Dan menjadi wanita yang sungguh dimuliakan!

Yang mau kita renungkan adalah: Kita sungguh menjadi pribadi yang ‘alangkah bahagianya kita sekiranya kita sungguh pasrah pada kehendak dan penyelenggaraan Allah.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel