Pertama, Doa-doa yang kita panjatkan pada Tuhan, pada kenyataannya tidak membawa kita ‘keluar dari kenyataan hidup ini.’ Singkatnya doa itu bukan pelarian kita dari kenyataan hidup. Justru sebaliknya, doa-doa kita itu adalah harapan kita pada Tuhan agar kita ‘disanggupkan memeluk kenyataan hidup ini dengan jiwa besar dan keteduhan hati.’
Renungkan kenyataan yang harus dialami Abraham dan Sara. Tentu, dalam doa-doa mereka berharap pada Tuhan agar pada waktunya mereka berdua yang telah renta itu , masih dikaruniani seorang anak. Dan itu terjadi! Seorang anak yang lalu diberi nama Ishak dihadirkan sebagai buah cinta pasutri usia lanjut itu. Tetapi, kenyataaan ujian dari Tuhan segera menyusul. Ishak harus dikorbankan bagi Tuhan. Kita dapatkan pergolakan batin dan pertarungan iman dalam diri Abraham.
Abraham lalu dibenarkan karena ia taat pada kehendak Tuhan untuk mempersembahkan Ishak. Tetapi, yang paling membahagiakan dalam diri Abraham bahwa ia dikenal sebagai ‘bapa bangsa yang memberkati.’ Maka, kebahagiaan yang benar bagi kita adalah saat kita sungguh masuk dalam doa-doa dan memahami rencana dan kehendak Allah yang mesti terjadi dalam hidup kita. Dan terutama bahwa hidup kita menjadi TANDA BERKAT BAGI SESAMA..
Kedua, Kebahagiaan dan keindahan hidup itu seturut jalan Yesus, selalu lewati jalan derita, pengorbanan dan pemberian diri. Kita bisa saja, seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes, sangatlah terpukau akan perubahan wajah Yesus di gunung yang tinggi itu. Ketika “Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaianNya sangat putih berkilauan…” (Markus 9:2-3).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



