Densus 88 Bekali Siswa St. Familia Wae Nakeng Tangkal Radikalisme di Era Digital

Ia pun menekankan pentingnya penguatan Empat Pilar Ketahanan Diri dan Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi nilai untuk menangkal berbagai paham destruktif di tengah tantangan global.

Dalam sesi tanya jawab, suasana berlangsung hangat dan interaktif. Seorang siswi bernama Afni bertanya tentang maraknya konten yang menjelekkan agama lain di media sosial.

Narasumber menjawab dengan tegas namun bijak, “Negara hadir menegakkan hukum, tapi pencegahan dimulai dari diri sendiri. Jangan jadi pelaku, dan tetap jaga sikap saling menghormati.”

Pertanyaan lain datang dari Celsi yang menyinggung isu penculikan anak di media sosial. Tim menjelaskan bahwa sebagian besar kabar itu tidak benar dan hanya bertujuan menciptakan kepanikan.

“Banyak isu sengaja dibuat untuk menggoyahkan stabilitas masyarakat. Karena itu, verifikasi informasi sangat penting sebelum membagikannya,” jelasnya.

Sementara Asti, siswi lainnya, bertanya mengenai sanksi hukum bagi pelaku intoleransi dan terorisme. Narasumber menjelaskan bahwa undang-undang telah mengatur sanksi berat, namun negara tetap membuka ruang deradikalisasi dan restorative justice agar pelaku dapat kembali ke masyarakat dengan pemahaman yang benar.

Menutup kegiatan, Kepala Sekolah mengajak seluruh siswa menjadikan pembekalan ini sebagai momentum memperkuat semangat toleransi dan kebinekaan.

“Bangunlah Indonesia dari hati yang terbuka dan pikiran yang jernih. Gunakan ilmu dan teknologi untuk membangun, bukan menghancurkan,” pesannya.

Kegiatan berakhir dengan sesi foto bersama di halaman sekolah, disertai senyum ceria dan semangat kebangsaan yang terasa kuat. Para siswa tampak antusias dan aktif sepanjang acara, menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap isu-isu kebangsaan dan keamanan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN