Densus 88 Bekali Siswa St. Familia Wae Nakeng Tangkal Radikalisme di Era Digital

“Media sosial bisa menjadi ruang berbahaya jika tidak digunakan dengan bijak. Banyak narasi intoleran dan ajakan kekerasan yang menyusup dalam bentuk hiburan,” tegasnya.

Ia mengingatkan pentingnya literasi digital agar para pelajar tidak mudah terprovokasi dan mampu memilah informasi secara benar.

Sementara itu, kepala Sekolah RD. Daniel Abdineri Ngabut,S.Fil., menyampaikan apresiasi kepada Densus 88 dan pihak kepolisian atas kegiatan yang dinilainya sangat relevan dengan tantangan remaja masa kini.

“Intoleransi tidak selalu soal agama. Ia bisa muncul dari sikap menutup diri dan enggan mendengar orang lain. Dari sinilah bibit radikalisme tumbuh,” katanya.

Dari tempat yang sama, Kapolsek Lembor Ipda Vinsensius Hardi Bagus menekankan pentingnya peran pelajar dalam menjaga keamanan lingkungan sekolah dan masyarakat.

Ia menyinggung kasus ledakan di Jakarta yang dilakukan oleh remaja korban bullying sebagai pelajaran penting agar siswa menjauhi kekerasan.

“Bullying bukan hal sepele. Pelakunya bisa dijerat hukum, bahkan anak di bawah umur pun bisa dijatuhi hukuman, hanya dengan pengurangan sepertiga masa pidana,” ujarnya.

Kapolsek juga mengingatkan bahwa meski kasus kenakalan remaja di wilayah Lembor tidak signifikan, namun kasus pelecehan seksual tergolong tinggi.

“Tahun ini saja sudah ada tiga kasus pelecehan seksual. Ini peringatan bagi kita semua agar lebih peduli pada lingkungan sekitar,” tambahnya.

Dalam sesi materi, IPDA Silvester Guntur, Koordinator Tim Pencegahan Satgaswil NTT Densus 88, memaparkan data nasional yang menunjukkan potensi radikalisme di Indonesia mencapai 11,7 persen, sedangkan di Nusa Tenggara Timur berada di angka 6,8 persen.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN