Berbeda dengan tatap muka yang mengharuskan kita konstan berkomunikasi dan terbatasi oleh tempo, interaksi daring memberi justifikasi bagi nitizen umumnya dan buzzer khususnya untuk berkata kasar kemudian meninggalkan percakapan.
Selain itu, dalam dunia maya otoritas seperti semu, lenyap, tak bernyawa. Dalam virtualitas, hirarki otoritas, entah itu berdasarkan usia, kepakaran atau otoritas hukum tak berlaku, tenggelam entah sampai pada kedalaman berapa, seperti menghilang.
Setiap orang, merasa tidak ada batasan dari otoritas apapun. Dalam suasana anarkis sedemikian, orang menjadi gampang untuk bersikap kasar kepada orang lain. Karena pada dasarnya dia tidak mengenal lawan bicaranya.
Brutalnya sikap buzzer juga bisa kita lihat dari cara para buzzer (pendengung) tersebut membungkam kritik para intelektual atau mereka yang mengaku intelektual.
Buzzer = Pembunuh; Pembunuhan Karakter
Sikap kasar, perundungan, doxing dan segala tindakan tidak menyenangkan di dunia maya pada dasarnya berpengaruh pada kesehatan mental seseorang yang menjadi sasarannya.
Danny Wallace, dalam bukunya yang berjudul F*** You Very Much: The Surprising Truth About Why People Are So Rude, menjelaskan bahwa dampak dari sikap kasar yang diterima di dunia maya seperti sebuah neurotoxin, substansi beracun yang berdampak negatif pada sistem saraf kita.
Efeknya bisa menimpa fungsi eksekutif yang berpengaruh pada kesehatan otak. Bahkan, sikap kasar di dunia maya sebagai pembunuh tidak tampak dan jika tidak ditangani secara serius maka dampaknya bisa mengganggu fungsi otak bagian depan (frontal lobes) yang mengatur cara kita mengingat, konsentrasi dan pemecahan masalah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











