Biarlah Kita Seperti Apa Adanya

Kita renungkan kata-kata penuh makna: ‘Kita tetap diingat dan didoakan walau kita banyak berbuat salah. Kita bisa pulang walau sudah mengembara, Kita bisa mulai dari awal lagi walaupun semuanya sudah berantakan. Dan, Kita tak perlu diam di tempat di mana kita berada sekarang.’

Kepenuhan dalam Tuhan: Kasih

Rahasia iman dan hidup rohani bukanlah pada pencapaian kepuasan rohani (konsolasi spiritual) sambil menjadi buta atas segala titik batas ‘kita apa adanya.’ Setiap kita tercipta atau ‘hidup-bergerak dan ada’ untuk berziarah menuju kepenuhan dalam Tuhan.

Kita, sepanjang hidup ini, tidak pernah tahu sepenuhnya siapa kita ini. Sebab itulah, kita pun tak pernah tahu setepat dan sepastinya mengenai sesama kita dengan mengandalkan pancaindra yang terbatas. Kita memang sepantasnya melihat segala sesuatu serta memandang sesama dengan mata iman dan dalam pandangan kasih Allah. Iya, dalam bola mata Allah sendiri. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Samuel 16:7).

Kebenaran iman Kristen tampak dalam keteguhan hati untuk memandang orang lain dalam Kasih. Sebaliknya, “Kita tidak dapat melihat orang lain dengan benar jika kita tidak memandang mereka dengan belaskasih.”

Akhirnya…

Tetapi, di atas segalanya, dalam rahmat Tuhan yang sungguh mengasihi diri kita, mari kita pulang kepada diri sendiri. Iya, pulang kepada diri sendiri apa adanya. Hanya dengan itu kita jadi sejuk, tak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap siapapun sesama.

Sering tuntutan kita terhadap orang lain terlampau berat. Dan kita tetap saja mencela dan merendahkannya, hanya karena ia tak penuhi syarat dan harapan kita untuk ‘terbang.’ Bagimu, dialah tetaplah ‘seorang penjahat, dan engkau sendiri bagai seorang nabi.’ Mungkin di sini, si Kahlil Gibran tersenyum geli.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel