Terkadang ‘yang tak hebat dan tak indah punya kita dipakai sesama dengan begitu bebas untuk menghebatkan diri dan kelompok sendiri. Sebab kata si bijak lagi, “Orang pasti tertarik untuk kibarkan bendera superirotas sendiri dengan memakai tiang ketidakhebatan orang lain.” Dan itu yang akan terus ‘dimainkan, disuarakan, dan diwartakan.’ Itu tak ubah bagagai suara di Farisi dalam kenisah, “Aku tidak sama dengan semua orang lain… tidak juga seperti pemungut cukai ini” (cf Lukas 18:9-14).
Adu untung dalam kegagalan
Adakah sekelompok yang katanya koalisi? Koalisi adalah animo lewati jembatan penyebarangan untuk mencari dan berpadu dalam ‘kepentingan yang satu dan sama.’ Dan bersatu dalam hadapi musuh bersama pula.’ Dan kegagalan atau kesalahan pun kedosaan ‘group sebelah’ adalah ‘makanan empuk untuk kompetitornya.’
Tetapi, sudahlah! Sebagusnya setiap kita ‘pulang pada diri sendiri.’ Untuk tidak lagi enteng mulut dan garang di lidah, bahkan penuh benci terhadap yang lain. Toh, siapapun kita manusia, katanya, tidaklah lebih atau kurang dari sesama. Tapi kita, manusia ini, hanyalah berbeda dari satu dengan yang lain dalam kisah dan peristiwa yang disusuri. Iya, “Beda nasib saja…”
Dalam dunia, di keseharian dan dalam kebersamaan apapun, sejatinya, “Setiap kita dapat satu peranan, yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.” Ada sekian banyak sesama yang lewati peran dan jalan-jalan hidup penuh liku. Penuh duka dan linangan air mata. Kita pasti tak bisa begitu saja royal ‘menghakimi’ atas dasar ‘kemegahan diri sendiri serentak rasa diri ‘penuh dengan segala lebihnya.’
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





