“Siapakah kita sehingga gencar sekali menghakimi, mencela, dan mengkasari sesama?” (cf Roma 14:10 ). Yang nyata dari suara Yesus bahwa, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan padamu” (cf Matius 7:2). Namun, ini sama sekali tak berarti bahwa tak boleh ada correctio fraterna. Bahwa tak boleh ada suara alarm atau cahaya mercusuar yang mengingatkan. Bahkan ada sesama yang dalam ‘diam dan sejuk hatinya’ sebenarnya telah berbicara kuat dan lantang.
Dipanggil ‘pulang’
Alarm itu perlu dan sungguh dibutuhkan! Kita bukanlah siapa-siapa yang wajib tanpa kurang dan tiada erornya. Setiap kita mesti bersyukur bahwa ada suara dan cahaya sesama yang menerawang dan mengingatkan! Masih ada sekian banyak orang yang berhati mulia untuk ‘mendapatkan kita kembali sebagai saudara’ (cf Matius 18:15).
Tetapi, di sisi lain, rahmat Allah tetap kita rindukan. Rahmat itu bekerja pasti dalam situasi dan keadaan tertentu. Khasiat rahmat Allah tampak saat yang lama, yang usang dan suram segera mesti berlalu dan diperbaharui. Untuk meretas jalan pulang ke alam baru itu siapa pun mesti pulang kepada diri sendiri.
Mengkaribi diri sendiri apa adanya adalah satu titik tolak indah menuju alam baru. Si bijak ingatkan, “Kita harus belajar untuk datang dengan segala kekecewaan, kegagalan dan kesalahan…” Tidakkah Tuhan tetap setia menanti untuk ‘memeluk kita?’ Kita selalu bisa dan punya kesempatan untuk pulang walau kita telah berkelana.
Dari perumpamaan Yesus dikisahkan Sang ayah setia menanti dalam rindu si bungsu yang hilang dan mengembara di tanah asing (Lukas 15:11-32). Yakub, yang sadari akan kesalahannya terhadap Esau, saudaranya, akhirnya sanggup bersua dan berbaikan kembali dalam suatu ‘perjalanan pulang apa adanya.’ Tangisan Saul dan dekapannya penuh kasih terhadap Yakub, adiknya, (Kejadian 33:4) terlampau kuat untuk cairkan satu peristiwa silam yang ‘pernah membuatnya marah sejadinya’ (Kejadian 27:41).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





