Inovasi Olahan Jawaban atas Tantangan Pasar
Meski unggul secara nutrisi, Prof. Juni mengakui pemanfaatan susu kambing masih menghadapi tantangan akseptabilitas konsumen. Aroma khas atau goaty flavor serta masa simpan susu segar yang pendek sering menghambat hilirisasi produk.
“Transformasi susu kambing tidak boleh berhenti sebagai susu segar. Inovasi pengolahan harus mendorong peningkatan daya terima, memperpanjang masa simpan, dan menaikkan nilai tambah produk,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa pengolahan susu kambing menjadi yoghurt, keju, susu fermentasi, hingga pangan fungsional mampu meningkatkan margin keuntungan peternak lokal hingga 40–60 persen. Menurutnya, langkah ini tidak hanya menguatkan ekonomi peternak, tetapi juga memperkokoh struktur pangan berbasis desa.
Peran Strategis Susu Kambing dalam Percepatan Gizi
Dalam konteks pemenuhan gizi dan pengentasan stunting, Prof. Juni menilai susu kambing memiliki posisi strategis sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi, khususnya bagi kelompok rentan.
“Pengembangan susu kambing berbasis inovasi teknologi pengolahan mampu menjawab persoalan gizi sekaligus membangun ekosistem pangan lokal yang resilien dan berdaya saing,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa inovasi pengolahan tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.
Rektor: Inovasi Kampus Harus Menyentuh Kebutuhan Daerah
Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Theol., menyambut gagasan tersebut sebagai contoh konkret peran kampus dalam menjawab tantangan lokal dan nasional.
“Kampus harus melahirkan inovasi yang aplikatif dan kontekstual. Gagasan pengolahan susu kambing ini sangat relevan dengan kondisi NTT dan berpotensi mendorong kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal,” tegas Rektor.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





