“Berdua,” suara laki-laki yang sakit tetap wibawa. “Ingatlah bahwa hidup yang dikhianati akan selalu melukai lubuk hati personal. Sakit dan penyakit yang paling keji datang dari orang dekat yang amat kita cinta.”
Gelap pun purna. Fajar yang timbul masih juga layu dipandang Amelia. Akhir pekan, ia pun ingin mengakhiri sedu sedan ibunya. Apakah hari ini ibu saya akan bersembunyi lagi? Bunga-bunga di luar jendela menyiramkan aroma musim Desember yang basah. Denyut hati agak tentram berlagu. Sesudah air membasuh tubuh, segala kemelut turut berlalu. Amelia ke taman sekolah, ke tempat ia memungut kelopak yang gugur. Ibunya akan menepi ke sudut segala sembunyi.
“Ibu,” suara Pastor X bergetar tegar. “Mengapa Amelia tahu sesudah pintu yang kita jaga tak kuat terkunci?”
“Pa… X,” nada lembut mendayu. “Perempuan pandai menjaga rahasia, tapi mencintai orang yang tepat tak pernah ia rahasiakan.”
Kampus yang sepi dari kritik seperti turut mendukung perjumpaan enigmatik. Di kamar tak bernomor, dengan papan kecil identitas, akhir pekan dingin dirayakan. Seorang Guru yang awalnya membawa beban batin, kini dengan perasaan tanpa tanggung, meloloskan afeksi dan intimasi ke pangkuan seorang pelayanan Tuhan.
Jemari yang menjamah hostia cukup piawai menyucikan wajah perempuan dengan sentuhan dan sapuan romantik. Guru moralis di pangkuan seorang pastor. “Ibu, wajahmu adalah pualam keindahan. Tak retak oleh usia. Mengapa dahaga padang gurun terus memburu”. Ibu berbalik dan menatap Pastor X. “Pa… X, mengapa hasrat tak mati-mati jua. Kita mungkin hamba paling lemah yang didikte desire.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan