Baris huruf-huruf miring menghentak pikirannya yang masih kanak-kanak. Catatan bold menyentuh hatinya. Mungkin ini kesadaran pertama tentang kesalahan yang besar. Ibunya bukan istri yang tulus dan setia dan Amelia berjuang berbicara hal yang benar. Malam mulai menyentuh pelupuk matanya. Lampu jalan memancar cahaya kecil. Ia kembali ke rumah. Bagaimana pun ia rindu dekapan orangtua.
“Mama!”
Teriak bagai memecah pintu yang tertutup. Ibunya memukul dada mendengar pekik gadis satu-satunya yang ia lahirkan. Hati ibu tiba-tiba disulam dengan kesadaran moral dan perhatian kasih sayang. Ia membuka pintu dan menyambut anaknya.
“Mel…”
Suara ibunya santun menyambut. Membuka lengan dan mata mencucurkan kesalahan yang kuyup. Amelia berlari ke dekapan ibunya. Ibunya yang berdosa tetap berdoa agar anaknya tetap menerima setiap orang, apa pun kesalahan mereka. Anak dan ibu sama-sama menangis. Kesedihan Amelia bukan karena tanpa kasih sayang, tetapi karena ia tahu rahim yang melahirkannya telah tercemar. Begitu pula ibunya, menangis karena ia tahu ia telah diketauhi berdosa oleh anaknya sendiri.
Tak ada percakapan. Air mata mungkin kosakata paling lengkap untuk lidah yang pendek dan terbatas untuk mengucapkan isi hati. Amelia digendong ke kamar orangtuanya. Ayah letih menanggung badan yang gagu bergerak. Rasa sakit, rasa bersalah, dan air mata saling mengafirmasi bahwa hidup yang berperasaan memang menyakitkan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan