Dalam konteks demikian, menggugat Bupati dan PT PLN tidaklah mudah. Masyarakat diibaratkan mencari kucing hitam dalam ruang yang gelap. Apalagi jika tidak bisa menyediakan penerangan ke ruang gelap itu. Bisanya hanya mengutuk kegelapan itu.
Berburu Ilusi
Apa yang dikejar oleh para aktivis dan pendukungnya di Pocoleok? Jika kebenaran yang dicari oleh para aktivis maka seharusnya klaim kebenaran itu diuji di pengadilan. Bukan sekedar demo dan terus demo, apalagi kalau orasi dalam demo-demo itu hanya berisi narasi manipulatif.
Selebihnya, melalui demo, para aktivis hanya menabur ilusi kepada masyarakat. Demo dianggap sebagai obat mujarab untuk menghentikan perluasan geothermal. Nyatanya itu semua adalah kesia-siaan belaka.
Itu sama sia-sianya dengan kerja mendorong batu besar dari Pocoleok menuju Puncak Golo Lusang. Yang terjadi, bahwa mereka hanya ikut menyaksikan batu besar itu menggulung turun kembali ke Pocoleok.
Jika demikian demo dengan tujuan menghentikan perluasan geothermal adalah ilusi. Para aktivis dan para pendukungnya sedang berburu ilusi di Pocoleok, bukan memburu kebenaran.
Persis sama dengan kata-kata yang pernah diucapkan oleh Anais Nin (1903—1977), seorang seorang penulis, esais, dan diarist: “It was not the truth they wanted but an illusion they could bear to live with” (bukan kebenaran yang mereka inginkan tetapi hanya ilusi yang bisa mereka terima untuk dihidupi).
Dengan kata-kata itu, Anais Nin hendak mengangkat ke permukaan sebuah kecenderungan destruktif di tengah masyarakat, bahwa ilusi dapat lebih mudah diterima daripada kebenaran. Manusia seringkali lebih suka hidup dengan ilusi daripada menghadapi kebenaran yang pahit.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







