Benang Kusut yang Belum Terurai? Sekadar Menebak-nebak Ferdy Sambo

Sambo
Ferdy Sambo Cs (Kolase Foto: Detik.com)

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Jika kita saling mengakui semua dosa dan kesalahan kita satu sama lain, kita semua akan saling menertawakan karena kurangnya keaslian….”

(Kahlil Gibran, penulis-penyair-seniman, Lebanon 1882 – New York 1931)

Awal penuh harapan?

Semula ada titik harapan nan terang. Benang kusut tragedi Brigadir Josua bakal segera terurai. Tanpa kerumitan berarti lagi. Di surat tertanggal 22 Agustus 2022 itu, nyaris sebulan lebih memang setelah Josua pergi tak wajar, Sambo sepertinya ‘baru pasrah.’ Diakui dirinyalah dalang dari kisah kelam itu.

Ada minta maaf terhadap institusi POLRI. Sebab ada imbas redup institusional. Tak terhindarkan. Indonesia sedikit bernafas lega. Sambo awali harapan ceriah. Dalam kisah penuh kabut itu.

Tak hanya itu! Ada tekad gagah perwira dan niatan suci. Simak saja petikan hati terdalam Sambo, “…dan saya menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi sesuai hukum yang berlaku.” Ketulusan hati Sambo dipertebal lagi pada epilog suratnya, “…saya siap menjalankan proses hukum ini dengan baik sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa keadilan bagi semua pihak.”

Tetaplah bersabar

Namun, Indonesia harus tetap bersabar. Sudah genap dua bulan kematian Josua, si Brigadir Polisi itu (8 Juli 2022). Bola-bola liar rasionalisasi masih menggelinding. Ke sana-ke mari. Bersenggolan sana-sini. Ada aduh kuat gagasan dan analisis.

Satu analisis belumlah disimak penuh teduh, analisis lain sudah ditawarkan. Ini seputar patahkan argumentasi kontra serentak coba tegakan argumen pro. Di situ nampak seperti ‘opera verbal.’ Entah sampai kapan? Bagaimana pun, yang jadi factum semper factum adalah kematian Josua yang tragis itu.

Sambo sudah punya ‘hati tulus seperti merpati.’ Itulah pengakuannya sebagai dalang di balik semuanya. Namun, publik sudah menduga-duga yang ‘tak indah.’ Di balik Sambo dan kerabat karibnya, terhampar varian tesis yang dicurigai ‘licik seperti ular.’

Harapan meredup?