Ada di dalam nilai, serta berjalan di bawah payung nilai, bagi Gereja, tetaplah menjadi dasar dan kekuatan hidup. Yang tak bisa dibatalkan oleh kuasa manapun yang mengejeknya dan meludahinya atau pun berseberangan dengan keyakinannya.
Mari kita berjalan bersama Rasul Thomas dalam ziarah imannya di dalam Paskah Tuhan….
Ada tafsiran ‘kasar rubu-raba sekadarnya.’ Di kisah Injil Yohanes 20:24-29 itu, Thomas, si Didimus itu, tak sedang meragukan kebangkitan Tuhan. Yang disangsikannya adalah “layak kah sobat-sobatnya yang lain itu (rekan-rekan murid) mewartakan kepadanya: Kami telah melihat Tuhan?” Sementara di jalan derita hingga kematian Tuhan, semua murid telah terpencar dalam jalan amannya sendiri? “layak kah rekan-rekan murid itu berkisah tentang melihat Tuhan, sementara semuanya dalam kekerdilan hati penuh ketakutan?”
Sebab itulah, Thomas, sepertinya, harus melewati prasangkanya atas berita dari para rekannya, untuk langsung berserah pada Yesus, Tuhan dan Guru. Thomas mesti ‘melihat bekas paku, dan menaruh jarinya ke dalam bekas paku itu, dan menaruh tangannya ke dalam lambungNya…”
Dan pada titiknya, ada harapan akan nilai dari segala prasangka dan kesangsian yang berujung pada ‘kehadiran Tuhan meneguhkannya.’ “Ya Tuhanku dan Allahku” adalah kepasrahan iman.
Sekian banyak orang menjarakkan dirinya sendiri dari ‘kebenaran, etika dan nilai’ di dalam jarak aman dan kenyamanan ego-nya sendiri. Namun, itu pun bagian yang acapkali tak terelakkan dalam mencari kebenaran. Barangkali saja ungkapan Bernard William, filsuf Inggris itu, ada benarnya, “Ada suatu komitmen yang intens pada pencaharian kebenaran, atau pada tingkat tertentu, suatu kecurigaan yang menetap, kesediaan untuk keliru, suatu kemauan untuk menembus tampilan menuju struktur dan motif sebenarnya yang ada di balik tampilan itu….”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





