Keyakinan di dalam kata-kata itu sendiri , dan ketepatannya dalam menggunakannya secara berwibawa dapat membawa kepada apa yang dapat disebut sudah layak dan sepantasnya untuk diyakini! Setiap kita berjuang agar dapat dipercaya. Dan bahwa segala ungkapan hati dan isi kepala kita sekian mudah ‘diterima dan diakui.’ Bukan sebaliknya ditabrak dan dimentahkan dengan segala aksi prasangka penuh pesimistik.
Dunia, iya di masa kini, sekali lagi, tengah dirayapi dengan segala prasangka dan curiga. Orang tak mudah begitu saja percaya apa yang dikatakan oleh ahli ini atau ahli itu. Orang tetap curiga pada pihak keamanan, pada penguasa dan birokrasi hakim dan pengadilan. Dunia tak begitu saja terkesima dan taat buta pada lembaga agama serta para ulama atau pun pemangku lembaga agama. Sebabnya?
Kepakaran justru dipakai untuk menggelabui. Status dan kedudukan diperalat justru untuk ‘membenarkan diri, amankan serta memperkuat posisi.’ Yang bersuara tentang keadilan, perdamaian dan kebenaran, ternyata justru menjadi aktor utama yang mengaburkan tesis yang berkeadilan, damai dan kebenaran itu sendiri di dalam kenyataannya. Tetapi, harus kah kita menyerah pasif dalam kibaran bendera kebenaran, nilai dan etika?
“Melampaui prasangka” tetaplah menjadi harapan. Kebenaran nilai-nilai tak akan pernah sirna hanya adanya terpaan curiga dan prasangka. Iman dan keyakinan akan nilai tidaklah gugur hanya karena adanya caci maki, kata-kata hinaan dan sumpah serapah. “Bukan berarti dipastikan tak ada matahari hanya karena awan hitam lagi menghalangi atau pun karena lagi turun hujan disertai petir menyambar dan gemuruh guntur menggelegar. Matahari nilai dan rembulan etika itu tetaplah eksis!
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





