Antara AI dan Realitas Kecerdasan Manusia
Setelah berevolusi setidaknya selama 300.000 tahun, spesies Homo sapiens mengembangkan serangkaian keterampilan interaktif yang luas, kecerdasan yang didasarkan pada perkembangannya sebagai makhluk sosial membuatnya mahir dalam berbagai bentuk kecerdasan sosial. Aktivitas terkait seperti penilaian, intuisi, komunikasi yang halus namun efektif, dan imajinasi adalah semua domain di mana kecerdasan manusia jauh lebih berguna dan berharga dan bahkan lebih baik daripada AI dalam bentuk apa pun yang ada saat ini.
Sementara itu, AI mempunyai begitu banyak keunggulan dalam hal kecerdasan yang berorientasi pada pembelajaran, penalaran, bahasa dan lainnya. Ia mampu menganalisis permasalahan dengan waktu yang singkat serta ketepatan yang luar biasa akurat ketika mengerjakan suatu tugas yang sama seperti manusia.
Selain itu, AI juga mampu menghasilkan karya seperti karya manusia pada umumnya dalam berbagai bidang pengetahuan dengan efisiensi yang tidak perlu diragukan lagi. Hal itu terwujud ketika banyak orang yang melihat dan mendengar serta merasakan bagaimana AI mampu menghasilkan gambar, video serta audio yang tak kalah menarik dari karya yang dihasilkan oleh manusia.
Berangkat dari realitas yang demikian, bukan tidak mungkin skeptisisme lahir di tengah kehidupan manusia akan AI yang semakin melejit. Skeptisisme ini lahir menandakan bahwa manusia dengan penuh kesadaran mengkhawatirkan eksistensinya sendiri di tengah gempuran AI yang perkembangannya semakin hari semakin masif. Skeptisisme ini juga, muncul karena AI membawa serta ambiguitas akan eksistensinya di tengah masyarakat universal. Karya-karya yang dihasilkan oleh AI seperti foto, video, audio dan lainnya sangat sulit dibedakan dengan karya-karya orisinal manusia. Sehingga terkadang banyak orang yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadi dan sarana menyebarkan hoaks.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

