Akar yang Tak Memaksa Daun; Bagaimana Seharusnya Memperlakukan Anak

Di sana tersimpan kebijaksanaan yang relevan lintas zaman. Ki Hajar memahami bahwa anak memiliki dunianya sendiri, memiliki irama pertumbuhannya sendiri. Pendidikan bukanlah proyek menyeragamkan, melainkan proses memerdekakan.

Prinsip Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani bukan sekadar semboyan; ia adalah metafora kepemimpinan yang lentur. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan artinya posisi guru selalu berubah sesuai kebutuhan anak dan zamannya.

Bila kita renungkan lebih jauh, gagasan ini justru menolak pemaksaan perspektif masa lalu. Sebab memaksa berarti meniadakan kemerdekaan batin anak. Padahal pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang memberi ruang bagi tafsir baru, selama ia tetap berakar pada nilai kemanusiaan.

Namun refleksi ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan masa lalu. Tanpa masa lalu, tidak ada pijakan. Tanpa pengalaman, tidak ada kedalaman. Akan tetapi, pengalaman yang tidak bersedia berdialog dengan perubahan akan berubah menjadi dogma. Dan dogma adalah bentuk ketakutan yang menyamar sebagai kepastian.

Mendidik sejatinya bukanlah menyalin diri ke dalam diri orang lain. Ia adalah kesediaan untuk berjalan bersama di perbatasan dua musim mengakui bahwa anak mungkin melihat sesuatu yang tak sempat dilihat gurunya. Dalam kesediaan itu, guru pun sebenarnya sedang belajar kembali: belajar merelakan sebagian kepastian, belajar menerima bahwa otoritas bukanlah kekuasaan untuk memaksa, melainkan tanggung jawab untuk membimbing.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel