infopertama.com – Anak tidak sekadar tumbuh, mereka menjelma di dalam arus waktu yang tak pernah sama. Zaman yang menyambutnya bukanlah zaman yang membentuk gurunya. Maka, ketika guru berbicara tentang masa lalu, mereka sesungguhnya sedang berbicara tentang dunia yang telah selesai sementara anak hidup di dunia yang sedang menjadi.
Di sinilah jarak itu bermula. Guru membawa ingatan; anak membawa kemungkinan. Guru dibesarkan oleh keterbatasan tertentu, oleh norma yang dianggap final, oleh otoritas yang jarang digugat.
Sementara, Anak hari ini tumbuh di tengah kelimpahan informasi, di ruang yang membuka banyak tafsir, di dunia yang bergerak lebih cepat dari nasihat.
Jika guru memaksakan perspektif masa lalunya sebagai satu-satunya kebenaran, yang terjadi bukanlah pewarisan nilai, melainkan pembekuan makna.
Padahal kebenaran manusiawi selalu kontekstual. Ia tidak jatuh dari langit sebagai rumus abadi, melainkan lahir dari pergulatan dengan realitas. Apa yang dahulu dianggap kebijaksanaan, bisa jadi hari ini perlu ditafsir ulang. Bukan karena ia salah, tetapi karena dunia telah berubah bentuk.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kita mengenal gagasan Ki Hajar Dewantara sebuah akar besar yang masih meneduhkan hingga kini.
Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah proses “menuntun” segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kata menuntun bukan menyeret, bukan mendorong secara paksa, apalagi mengganti arah kodratnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











