Marcus Aurelius tentu tak keliru dalam keyakinannya bahwa setiap orang itu unik. Tak hanya dalam khazanah kepribadiannya tapi juga dalam jalan hidup yang dipilih dan disusurinya. Dalam ‘bahasa pasar’ dilukiskan, “Orang lain yang jalani hidup dengan segala konsekwensi pilihan dan keputusannya, tapi kenapa kah Anda sekian sibuk ‘berkomentar, mengadili dan bahkan menghakimi?’
Sudahlah… Biarlah bahwa setiap orang jalani hidup ini dalam keyakinan dan keputusannya sendiri. Iya, termasuk kita sendiri sebagai individu. Semuanya melihat yang terbaik bagi diri kita sendiri. Tentu kita tak dicap atau ternilai ‘egosentrik-untuk ingat hanya diri sendiri’ sekiranya kita mesti juga tengok ke dalam diri sendiri. Untuk juga ‘memulai atau tetap berjalan dengan diri sendiri. Dalam peluang dan tantangan, dalam sukacita dan harapan.
Dan akhirnya, iya itu tadi, mari pulang kepada diri sendiri. Tak usahlah sekian rajin ‘beri tanggapan atau lancangkan komentar, yang hanya datang dari pikiran sendiri, yang mungkin saja dengan jangkauan berpikir yang masih tampak kerdil dan sempit.
Mari kita teduh dalam doa bagi sesama…
Kita tidak pernah tahu pasti dan persis mengenai situasi batin seseorang, apa yang tengah ia pikirkan. Di titik inilah, mungkin saja yang terbaik adalah “pentingnya bersikap sabar dan penuh kasih terhadap orang lain.” Bahkan sebenarnya juga kita sendiri mesti terpanggil untuk membawa orang lain di dalam doa-doa kita. Dari pada menjejali ‘otak sendiri’ atau meramaikan media sosial dengan hujatan, sumpah serapah, cacian, kata-kata kasar, pun dengan tafsiran-tafsiran yang sungguh merendahkan dan merendahkan sesama.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





