Ada Saatnya Kita Sepantasnya Diam dan Tenang (sebatas kata hati)

Gesit menanggapi – Berujung senyap nan pengap

‘Ada yang bersemangat sekali untuk cepat menolong. Ia lalu tampak boros untuk litaniakan kata-kata petuah nan saleh. Atau ada pula yang segera gelontorkan jawaban-jawaban pasti padahal pertanyaan atau inti masalah belumlah dicerna. Atau pun kaum soleha (rasa diri punya banyak pengalaman spiritual) telah tumpahkan segala kisah ia menggapai Langit. Tanpa peduli lagi bahwa pada sediakalanya ‘yang bicara hanya ingin meminjam telinga untuk mendengar serta keterbukaan hati nan teduh.’

Dalam dunia yang semakin tak tenang, pada invidu-individu yang ‘cepat bereaksi untuk bicara atau berpendapat’ dapat terjadi bahwa keadaan apapun dari sesama adalah kesempatan atau undangan untuk dikomentari. Apalagi saat individu tersebut merasa bahwa ‘pikiran, keputusan, pilihan’ sesama itu dianggapnya keliru (salah). Atau bahwa semuanya itu tak sesuai harapan, keinginan atau di luar dari ‘mau-maunya.’

Kita, sekiranya, tak pernah tahu persis setelaknya apa yang dialami oleh sesama. Kita tak pernah menggapai sepenuhnya apa yang tersembunyi di sudut hatinya atau bagaimana arus pergumulan ziarah batin atau kelap-kelip pelita jiwanya. Di titik seperti inilah, seyogiayanya pertanyaaan terbaik adalah Mengapa kah? Apa sebab? menjadi satu pilihan. Iya, ketimbang kita terlanjur keburu tiba pada kesimpulan, pada pernyataan atau apalagi pada kepastian tesis rakitan kita sendiri.

Sentuhan sejuk Marcus Aurelius

Bila mesti berputar haluan pada Marcus Aurelius, maka gema kebijakan hidup demi diri sendiri bisa jadi mutiara hidup penuh makna. Kita rumuskan saja secara sederhana. Tak usalah buang terlalu banyak waktu untuk berkomentar atau sibuk dengan ‘jalan hidup orang lain.’ Terlebih bahwa kita boroskan waktu untuk menghakimi orang lain. Padahal kita semestinya mesti pulang untuk kembali pada diri sendiri, dan lebih produktif demi diri sendiri yang maju dan berkembang pula.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel