Cepat, Lugas dan Berimbang
https://funny-tooth.com/dFm.F/zmdsGsNbvYZeGvUA/yermT9vuDZdUWl/kiPmTlcgwNMTzwM_1WMFTPc/thNBzXAyz/Mvz/UWyXMDQk

Mengukur Baju Orang Lain dengan Ukuran Baju Sendiri

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Ada kecenderungan yang semakin menonjol dalam kehidupan sosial hari ini. Sepertinya kita lebih gemar menjadi penilai kehidupan orang lain daripada pembaca atas diri sendiri. Kita hidup di tengah budaya yang mempermudah penghakiman, tetapi mempersulit perenungan.

Orang begitu cepat memberi label, kesimpulan, bahkan vonis moral terhadap sesamanya, seolah memahami manusia dapat dilakukan hanya dari serpihan peristiwa yang tampak di permukaan.

Kita lebih sibuk mengukur “baju” orang lain, padahal belum tentu tahu untuk siapa ukuran itu sebenarnya dipakaikan. Bahkan sering kali, kita menakar hidup orang lain dengan ukuran baju milik kita sendiri.

Pilihan politik, ideologi, keyakinan, bahkan cara seseorang menjalani hidup kerap dinilai menggunakan standar pribadi yang dianggap paling benar, tanpa pernah sungguh-sungguh memahami konteks dan pergulatan yang melatarinya. Seakan-akan manusia dapat disederhanakan hanya menjadi ukuran-ukuran lahiriah yang mudah dihakimi.

Padahal kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar penampakan luar. Kita kerap lupa bahwa setiap individu membawa pergulatan yang tidak selalu terlihat. Ada luka yang disembunyikan di balik tawa, ada kecemasan yang bersembunyi di balik ketegasan, dan ada kelelahan yang memilih diam karena merasa dunia terlalu bising untuk sungguh-sungguh mendengar.

Dalam konteks inilah pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terasa masih begitu relevan. Gus Dur pernah mengatakan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan, dan yang lebih penting dari kemanusiaan adalah hati nurani. Pernyataan tersebut bukan sekadar refleksi moral, melainkan sebuah kritik terhadap kecenderungan manusia yang mudah menghakimi tanpa memahami.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN