Cepat, Lugas dan Berimbang
https://funny-tooth.com/dFm.F/zmdsGsNbvYZeGvUA/yermT9vuDZdUWl/kiPmTlcgwNMTzwM_1WMFTPc/thNBzXAyz/Mvz/UWyXMDQk

Mengukur Baju Orang Lain dengan Ukuran Baju Sendiri

Gus Dur dikenal sebagai sosok yang menolak melihat manusia semata-mata dari identitas luar. Ia memahami bahwa manusia harus ditempatkan sebagai manusia terlebih dahulu, bukan sekadar label agama, kelompok, ataupun pandangan politiknya. Cara pandang semacam itu lahir dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki latar kehidupan dan pergulatan yang tidak selalu tampak di permukaan. Karena itu, memahami menjadi lebih penting daripada sekadar menghakimi.

Namun, ruang sosial kita hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Media sosial, misalnya, telah melahirkan budaya reaktif yang menjadikan opini lebih penting daripada pemahaman. Kecepatan respons dianggap lebih bernilai daripada kedalaman berpikir. Orang terdorong untuk segera berkomentar sebelum memahami persoalan secara utuh. Akibatnya, empati sering kalah cepat dibanding hasrat untuk menghakimi.

Dalam situasi seperti ini, kehendak untuk memahami diri sendiri menjadi sesuatu yang semakin langka. Padahal pengenalan terhadap diri merupakan fondasi penting bagi kedewasaan sosial. Seseorang yang sungguh mengenal dirinya biasanya lebih hati-hati dalam menilai orang lain. Ia sadar bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kontradiksi: mampu bersikap baik sekaligus egois, dapat terlihat kuat sekaligus rapuh pada waktu yang sama.

Kesadaran semacam itu melahirkan kerendahan hati. Bukan kerendahan hati yang pasif dan kehilangan prinsip, melainkan sikap yang memahami bahwa tidak semua hal harus direspons dengan penghakiman. Ada kalanya manusia lebih membutuhkan upaya untuk mengerti daripada sekadar memastikan siapa yang paling benar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN