Oh, R.A Kartini

R.A Kartini
R.A Kartini, tokoh emansipasi wanita

Bulan April selalu dikaitkan dengan tokoh Nasional R.A Kartini yang disebut sebagai pahlawan nasional pelopor kebangkitan perempuan atau pahlawan emansipasi perempuan. Apa benar seorang R.A Kartini pantas dikenang sebagai pahlawan. Apa saja yang sudah dilakukannya sehingga gelar pahlawan pantas disematkan kepadanya?

Ada yang mengatakan bahwa sejarah itu ditulis sesuai dengan keinginan penguasa berdasarkan kepentingannya saat itu. Banyak contoh yang bisa diambil mengenai pernyataan tersebut. Sebut saja Supersemar 1966 yang merupakan surat perintah dari Presiden Sukarno kepada Soeharto selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengamankan Indonesia kala itu.

Sampai sekarang tidak ada yang bisa menjawab bagaimana sebenarnya yang terjadi saat itu. Setidaknya ada empat versi Supersemar yang saat ini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Satu versi dari Akademi Kebangsaan, satu versi dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD dan dua versi lainnya dari Sekretariat Negara (Setneg).

Dari fakta tersebut sudah terlihat jelas bahwa ada kepentingan tertentu dibalik munculnya berbagai versi dari Supersemar 1966 tersebut. Demikian juga dengan film G30S PKI yang dahulu adalah tontonan wajib bagi  pelajar setiap menjelang akhir September. Apakah kejadian yang terjadi saat itu seperti yang digambarkan dalam film tersebut? Belakangan mulai terkuak dari saksi-saksi sejarah yang masih bisa ditelusuri, ternyata kejadian sebenarnya  tidak seperti yang dilihat dalam film tersebut.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN