Surat-surat yang dituliskan oleh R.A Kartini sebenarnya lebih banyak berisi keluhan (baca: curhat) mengenai kondisi perempuan di Jawa yang karena faktor kebudayaan membuat perempuan tidak berkembang seperti perempuan Eropa, teman-temannya di Belanda. Kalau bisa saya samakan, mungkin seperti curhatan seseorang di media sosial saat ini.
Di usia 24 tahun, R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bangsawan juga dari Rembang. Dan menjabat sebagai Bupati Rembang yang saat itu sudah memiliki tiga orang istri. Pernikahan ini sama sekali tidak mencerminkan apa yang katanya disuarakan oleh R.A Kartini. Bagaimana mungkin seorang pejuang emansipasi perempuan bersedia untuk dijadikan istri keempat.
Dari pernikahannya tersebut, R.A Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djojo Adhiningrat, tapi sayangnya beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya tersebut, R.A Kartini wafat dan dimakamkan di Desa Bulu, Rembang, Jawa Tengah.
Jadi apa yang dilakukan oleh R.A Kartini sebenarnya hanya menulis surat kepada teman-temannya di Belanda mengenai keprihatinannya tentang perempuan Indonesia. Setelah wafatnya R.A Kartini, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda saat itu, J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkannya kepada teman-temannya di Belanda.
Dari surat-surat yang dikumpulkan tersebut, disusunlah buku yang awalnya berjudul “Door Duisternis tot Licht” dan diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang Terbit” pada tahun 1911. Buku tersebut banyak menarik perhatian kaum Belanda saat itu karena pemikiran-pemikiran yang tertuang di buku tersebut berasal dari pemikiran perempuan lokal.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





