Oh, R.A Kartini

Sebagai seorang keturunan bangsawan dan juga putri seorang bupati, tentu saja R.A Kartini memiliki fasilitas lebih dibandingkan perempuan lain di zamannya. Hal ini tentu saja membuatnya bisa mengakses pendidikan yang baik.

Apa yang dilakukan R.A Kartini adalah berkoresponden dengan teman-temannya di Belanda. Aktivitas yang dilakukannya ini memang mengubah pola berpikirnya seperti perempuan Eropa yang sangat bertolak belakang dengan kebanyakan perempuan di Indonesia masa itu. Menurutnya perempuan perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi dan juga kesetaraan hukum.

Surat-surat yang dituliskan oleh R.A Kartini sebenarnya lebih banyak berisi keluhan (baca: curhat) mengenai kondisi perempuan di Jawa yang karena faktor kebudayaan membuat perempuan tidak berkembang seperti perempuan Eropa, teman-temannya di Belanda. Kalau bisa saya samakan, mungkin seperti  curhatan seseorang di media sosial saat ini.

Di usia 24 tahun, R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bangsawan juga dari Rembang. Dan menjabat sebagai Bupati Rembang yang saat itu sudah memiliki tiga orang istri. Pernikahan ini sama sekali tidak mencerminkan apa yang katanya disuarakan oleh R.A Kartini. Bagaimana mungkin seorang pejuang emansipasi perempuan bersedia untuk dijadikan istri keempat.

Dari pernikahannya tersebut, R.A Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djojo Adhiningrat, tapi sayangnya beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya tersebut, R.A Kartini wafat dan dimakamkan di Desa Bulu, Rembang, Jawa Tengah.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN