Oh, R.A Kartini

Banyak pihak yang tidak mendukung R.A Kartini ditahbiskan sebagai pahlawan nasional, karena apa yang dilakukannya menurut mereka sama sekali tidak istimewa, hanya sekedar curhat dalam bentuk surat layaknya orang yang sedang mengeluh dan kebetulan dibukukan oleh seseorang, yang kebenarannya pun masih diragukan banyak kalangan.  Seperti halnya dulu kita memiliki seorang presiden yang sering sekali curhat di media sosial mengenai keprihatinannya terhadap bangsa ini. Apa lantas karena curhatan-nya tersebut, jadi layak disebut pahlawan?

Keaslian surat-surat R.A Kartini pun masih disangsikan banyak orang dan bisa jadi juga hasil rekayasa karena sebagian besar suratnya itu tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini. Kalaupun surat-surat R.A Kartini benar, lalu apa yang menjadikannya pantas diberi gelar pahlawan? Hanya sekedar menuliskan surat kepada teman-temannya di Belanda bukanlah hal yang istimewa.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa masih banyak tokoh perempuan yang memang melakukan perjuangan nyata yang lebih pantas diberi gelar pahlawan. Sebutlah tokoh wanita yang menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama pada 22 Desember 1928 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu. Mereka adalah R.A. Soekonto sebagai ketua penyelenggara kongres dengan Nyi Hajar Dewantoro sebagai wakilnya dan Soejatien sebagai sekretaris. Tokoh-tokoh perempuan tersebut dinilai lebih pantas menerima gelar pahlawan pada namanya.

Oleh Hajime Yudistira*

*Hajime Yudistira adalah pegiat media sosial, penulis buku Analekta Yudistira, tinggal di Jakarta

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN