Ada cerita di balik surat-surat yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon tersebut. Terjadi banyak sekali perdebatan dan kontroversi mengenai surat-surat yang ditulis oleh R.A Kartini karena hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat-surat tersebut tidak diketahui keberadaannya, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sulit dilacak oleh pemerintahan Belanda. Banyak sekali kalangan yang meragukan isi buku tersebut didasarkan pada surat-surat R.A Kartini tersebut.
Ada dugaan J.H Abendanon merekayasa surat-surat R.A Kartini tersebut untuk kepentingan tertentu. Kecurigaan ini didasarkan pada buku yang terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis –politik balas budi–di Hindia Belanda saat itu. J.H. Abendanon termasuk orang yang memiliki kepentingan dan mendukung politik etis dan saat itu dia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda kala itu.
Banyak pihak yang tidak mendukung R.A Kartini ditahbiskan sebagai pahlawan nasional, karena apa yang dilakukannya menurut mereka sama sekali tidak istimewa, hanya sekedar curhat dalam bentuk surat layaknya orang yang sedang mengeluh dan kebetulan dibukukan oleh seseorang, yang kebenarannya pun masih diragukan banyak kalangan. Seperti halnya dulu kita memiliki seorang presiden yang sering sekali curhat di media sosial mengenai keprihatinannya terhadap bangsa ini. Apa lantas karena curhatan-nya tersebut, jadi layak disebut pahlawan?
Keaslian surat-surat R.A Kartini pun masih disangsikan banyak orang dan bisa jadi juga hasil rekayasa karena sebagian besar suratnya itu tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini. Kalaupun surat-surat R.A Kartini benar, lalu apa yang menjadikannya pantas diberi gelar pahlawan? Hanya sekedar menuliskan surat kepada teman-temannya di Belanda bukanlah hal yang istimewa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





