Jadi apa yang dilakukan oleh R.A Kartini sebenarnya hanya menulis surat kepada teman-temannya di Belanda mengenai keprihatinannya tentang perempuan Indonesia. Setelah wafatnya R.A Kartini, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda saat itu, J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkannya kepada teman-temannya di Belanda.
Dari surat-surat yang dikumpulkan tersebut, disusunlah buku yang awalnya berjudul “Door Duisternis tot Licht” dan diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang Terbit” pada tahun 1911. Buku tersebut banyak menarik perhatian kaum Belanda saat itu karena pemikiran-pemikiran yang tertuang di buku tersebut berasal dari pemikiran perempuan lokal.
Ada cerita di balik surat-surat yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon tersebut. Terjadi banyak sekali perdebatan dan kontroversi mengenai surat-surat yang ditulis oleh R.A Kartini karena hingga saat ini sebagian besar naskah asli surat-surat tersebut tidak diketahui keberadaannya, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sulit dilacak oleh pemerintahan Belanda. Banyak sekali kalangan yang meragukan isi buku tersebut didasarkan pada surat-surat R.A Kartini tersebut.
Ada dugaan J.H Abendanon merekayasa surat-surat R.A Kartini tersebut untuk kepentingan tertentu. Kecurigaan ini didasarkan pada buku yang terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis –politik balas budi–di Hindia Belanda saat itu. J.H. Abendanon termasuk orang yang memiliki kepentingan dan mendukung politik etis dan saat itu dia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda kala itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




