Ruteng, infopertama.com – Enam belas hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 SR mengguncang Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Manggarai masih berada dalam situasi tanggap darurat. Angka-angka dalam laporan situasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menunjukkan bahwa bencana belum selesai ketika tanah berhenti berguncang.
Juru Bicara Health Emergency Operations Center (HEOC) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Fransiskus Andriyani Djemahu, memaparkan gambaran data terbaru mengenai dampak bencana tersebut bagi masyarakat.
“Hingga Senin, 31 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA, tercatat 51 orang meninggal dunia, terdiri dari 24 laki-laki dan 27 perempuan. Sebanyak 59 orang mengalami luka berat/rawat inap, sementara 564 orang mengalami luka ringan/rawat jalan. Jumlah penduduk terdampak mencapai 85.325 orang, dengan 50.556 orang masih tercatat sebagai pengungsi,” ujar Fransiskus.
Angka tersebut menggambarkan pekerjaan besar yang masih harus ditangani oleh sistem kesehatan Manggarai.
Gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA, dengan pusat gempa di wilayah timur laut Kabupaten Nagekeo pada kedalaman 10 kilometer. Guncangan dirasakan kuat di seluruh wilayah Manggarai. Hingga 27 Agustus, tercatat 7.492 gempa susulan, sebanyak 143 di antaranya dirasakan masyarakat, dengan 33 gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5.
25 Puskesmas Terdampak
Bencana juga memukul infrastruktur kesehatan. Data Dinas Kesehatan mencatat 25 Puskesmas terdampak. Selain itu, terdapat 96 Poskesdes, 55 Pustu, dan 20 Polindes yang mengalami berbagai tingkat kerusakan. Secara keseluruhan, dari fasilitas kesehatan dan rumah dinas yang terdata, terdapat 272 bangunan dengan kondisi rusak, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












