Tantangan Terbesar: Tenaga Kesehatan Juga Korban
Di balik pelayanan yang terus berjalan, terdapat kenyataan yang sering luput dari perhatian: sebagian tenaga kesehatan sendiri merupakan korban gempa. Mereka harus membagi waktu antara merawat pasien dan memastikan keluarga mereka sendiri aman.
Di lapangan, akses ke sejumlah wilayah juga masih menjadi kendala. Jalan yang rusak, jarak antarposko yang jauh, dan keterbatasan kendaraan membuat tenaga kesehatan dan relawan tidak selalu mudah menjangkau seluruh posko, terutama posko mandiri yang tersebar di masyarakat.
Karena itu, kebutuhan ke depan bukan hanya tambahan obat dan alat kesehatan. Dibutuhkan lebih banyak tenaga untuk dukungan psikososial, media edukasi, ruang konseling, kendaraan operasional, serta penguatan jejaring relawan.
Dari Tanggap Darurat Menuju Pemulihan
Fransiskus menjelaskan bahwa SITREP Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai pada 31 Agustus 2026 menunjukkan satu hal penting: fase tanggap darurat memang masih berlangsung, tetapi pekerjaan pemulihan sudah harus dimulai.
Dukungan psikososial perlu dilanjutkan, kelompok rentan harus terus dipantau, gizi balita dan ibu hamil harus dijaga, surveilans penyakit harus diperkuat, posko kesehatan harus tetap hidup, dan tenaga kesehatan yang juga mengalami trauma perlu mendapat dukungan.
Dalam situasi seperti ini, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya hadir di balik meja atau di dalam gedung. Ia harus bergerak—mendatangi tenda, menyapa keluarga, memeriksa anak, mendengarkan keluhan seorang ibu, menenangkan seorang lansia, dan kadang-kadang, hanya duduk sebentar di samping seseorang yang masih takut setelah tanah berguncang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











