Di Desa Golo Cador, misalnya, pelayanan psikososial menyasar balita, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia. Intervensinya tidak berhenti pada konseling, tetapi juga mencakup pemantauan kondisi psikososial, identifikasi kebutuhan dasar, penguatan dukungan keluarga dan komunitas, edukasi mengenai reaksi psikologis setelah bencana, serta identifikasi kelompok rentan dan individu yang mengalami distress.
Langkah ini penting. Sebab setelah rumah roboh dan tubuh terluka, manusia masih harus berhadapan dengan rasa takut, kehilangan, kecemasan, dan ketidakpastian.
“Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan obat dan perban. Tubuh perlu dirawat, jiwa juga perlu dipeluk,” tuturnya.
Ancaman Berikutnya: Penyakit di Pengungsian
Perhatian HEOC juga diarahkan pada risiko munculnya penyakit di tengah kondisi pengungsian.
Tim surveilans terus melakukan pemantauan penyakit potensial wabah. Salah satu kasus yang mendapat perhatian adalah suspek pertusis pada bayi berusia tiga bulan di wilayah Puskesmas Ketang. Penyelidikan epidemiologi dilakukan bersama tim FETP UGM. Dari penelusuran terhadap 16 kontak erat, ditemukan enam orang dengan gejala demam, batuk, dan pilek, serta telah dilakukan pengambilan sampel swab nasofaring.
Pada saat yang sama, edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pencegahan ISPA dan diare, personal hygiene, imunisasi, kesehatan ibu dan anak, serta kesiapsiagaan menghadapi gempa susulan terus dilakukan di berbagai posko.
Dalam situasi pengungsian yang padat, persoalan air bersih, sanitasi, makanan, dan kebersihan dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan kesehatan baru.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











