Tiga rumah sakit juga terdampak. RS Pratama Reo mengalami kerusakan sedang, sementara RS Pratama St. Rafael dan RSUD BLU Ruteng tercatat mengalami kerusakan berat.
Namun pelayanan tidak boleh ikut runtuh.
Di tengah kerusakan gedung, tenaga kesehatan terus bekerja. Sebagian pelayanan dialihkan ke pos kesehatan lapangan dan dilakukan secara mobile untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Ketika Gedung Rusak, Pelayanan Bergerak Mendatangi Warga
Fransiskus menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai melalui HEOC mengaktifkan berbagai subklaster pelayanan kesehatan. Pos pelayanan kesehatan lapangan didirikan untuk menjawab dua persoalan sekaligus: keterbatasan fungsi sejumlah fasilitas kesehatan dan ketakutan masyarakat untuk kembali masuk ke dalam gedung akibat gempa susulan.
Tim Emergency Medical Team (EMT) juga dimobilisasi, melibatkan dokter umum, dokter EMT, dokter spesialis seperti bedah, ortopedi dan anestesi, perawat emergency, tenaga surveilans serta tenaga kesehatan lainnya.
Di lapangan, Peluk Sehat Mobile menjadi salah satu pendekatan pelayanan yang terus bergerak. Tim ini mendatangi pos kesehatan dan wilayah pengungsian untuk memberikan pemeriksaan, pelayanan medis sekaligus pendampingan kesehatan.
“Prinsip kami bukan sekadar mendatangkan tenaga kesehatan ke lokasi bencana, tetapi menghadirkan pelayanan sedekat mungkin dengan warga. Memeluk dengan hati, melayani sepenuh hati,” kata Fransiskus.
Bencana Bukan Hanya Soal Luka Fisik
Fransiskus menekankan bahwa ada luka yang tidak terlihat dalam peristiwa bencana ini.
Untuk penanganan tersebut, Tim Kesehatan Jiwa dan Dukungan Psikososial melakukan rapid health assessment, pemulihan psikososial, trauma healing, dan konseling kelompok di lokasi pengungsian.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











