Menurut Flora Grace Putrianti, kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan digital terhadap anak tidak cukup hanya membatasi durasi penggunaan gadget. Yang jauh lebih penting adalah pendampingan psikologis dalam penggunaan media digital. Anak perlu dibantu memahami: mana konten yang aman, mana yang berbahaya, serta bagaimana berpikir kritis terhadap apa yang dilihat di media sosial.
Pada akhirnya, tragedi ini menjadi refleksi bahwa perkembangan teknologi jauh lebih cepat dibanding kesiapan psikologis anak dalam memproses informasi digital. “Ketika anak tumbuh di lingkungan yang dipenuhi konten viral tanpa filter dan pendampingan yang memadai, maka risiko yang muncul bukan hanya pada kesehatan mental, tetapi juga keselamatan hidup mereka.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







