Di era digital, lanjut Owner Harmonia Psychocare ini, bahwa media sosial dan konten viral akhirnya berfungsi sebagai “model perilaku” baru bagi anak. Persoalannya, algoritma media sosial cenderung lebih cepat menyebarkan konten yang sensasional dan memancing perhatian dibanding konten yang edukatif.
“Semakin viral suatu tantangan, semakin sering anak melihatnya. Dalam psikologi, pengulangan visual seperti ini dapat memperkuat rasa penasaran dan dorongan imitasi.”
Selain itu, kata Alumni UGM ini, anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan mengontrol impuls, mempertimbangkan risiko, dan memprediksi konsekuensi jangka panjang.
Karena itu, anak lebih mudah berpikir: “Kalau orang lain bisa melakukan, berarti saya juga bisa.” Tanpa kemampuan memahami bahwa apa yang terlihat di layar bisa sangat berbahaya di dunia nyata.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kebutuhan psikologis anak untuk mendapatkan penerimaan sosial. Banyak anak ingin dianggap keren, berani, atau mengikuti tren kelompok sebayanya. Ketika sebuah challenge menjadi viral, muncul tekanan sosial tidak langsung untuk ikut mencoba agar merasa “tidak ketinggalan”.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai social conformity, yaitu kecenderungan individu mengikuti perilaku kelompok agar diterima lingkungan sosialnya.
“Yang memprihatinkan, paparan konten ekstrem secara terus-menerus dapat menyebabkan desensitisasi psikologis, yaitu menurunnya sensitivitas terhadap bahaya. Sesuatu yang awalnya terlihat berisiko lama-kelamaan dianggap biasa karena sering muncul di media sosial. Akibatnya, anak dapat kehilangan kemampuan membedakan mana hiburan dan mana tindakan yang membahayakan keselamatan dirinya.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







