Tetapi, bukan kah seringkali kita tersandra dalam bi-polaritas kedirian (diri sendiri) yang acapkali bertabrakan sengit? Antara cita-cita dan ‘gerak atau aura jiwa ke sana, ya ke cita-cita itu’ sungguh tak menjanjikan. Tak tunjukan tanda-tanda harapan. Ibarat ‘hati berkeinginan jadi petani, namun kenapa kah tangan dan kaki masih merasa enggan bahkan jijik untuk meraba dan menyentu tanah?’
Ketidaknyamanan mengenai masa depan dan hari esok tetap bergelora. Terasa belum ada kepastian. Tak jelas. Bisa terjadi ada harapan bahkan tuntutan agar ‘semua yang di luar diriku’ harus siapkan segalanya sebagai satu kepastian. “Sabar, Bro! Itu sepertinya keliru besar….”
Rupanya, di situasi seperti ini, mesti diulang apa yang disebut dinamika hidup demi sebuah self-discovery dan self-acceptance.’ Alasannya jelas! “Pulang ke diri sendiri” dan lalu menggali serta susuri sedalamnya ‘isi diri’ adalah syarat mutlak demi menggapai sebuah cita dan harapan.
Dalam diri setiap orang terdapat sederet bakat, minat, interese. Setiap kita miliki peta diri yang bermodal untuk maju dan berkembang. Dalam khasana religius ditangkap bahwa ada keyakinan akan Tuhan yang tak membiarkan kita ‘kosong’ dalam hidup. Setiap kita pun miliki spirit hidup. Itulah daya dorong yang dimeterai sebagai motivasi.
Tetapi, self-discovery (penemuan diri) dan self-acceptance (penerimaan diri) juga menuntun siapapun kita kepada sisi diri yang tak indah. Artinya, bahwa kita sepantasnya ikhlas, atau ‘tahu dirilah’ bahwa kita bukanlah segalanya. Di situlah sesunggguhnya terciptalah panggung indah kehidupan bahwa kita sanggup memeluk dan mencium diri sendiri yang tak indah dan tak lengkap.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





