Menurutnya, teater Randang Mosé pada tahap ini lebih sebagai panggung ekspresi bagi para mahasiswa/i sebagai orang-orang muda pelanjut Budaya Manggarai. “Kalau saya secara pribadi tidak terlalu mau ada penonton atau tidak ada penonton itu tidak jadi soal. Karena, ini adalah ajaran tuk generasi muda yang hadir dalam teater (Randang Mosé).”
Demikian Ino Sutam bahwa dirinya sudah mengajarkan para mahasiswa di UNIKA Ruteng tentang filosofi pohon, filosofi air, filosofi caci.
“Dan, ternyata anak-anak ini yang selalu orang katakan orang muda ini tidak memperhatikan kebudayaan menurut saya itu salah. Saya katakan dalam pengalaman saya selama di UNIKA hampir 23 tahun itu salah sama sekali. Yang benar adalah mereka tidak dibimbing, mereka tidak diberi panggung.”
Hanya saja, jelas Ino Sutam untuk ritus-ritus memang susah (diperankan anak muda). Karena, ritus itu punya persyaratan-persyaratan khusus yang menyebabkan mereka tidak bisa menjadi pelaku utama.
“Itu yang kita lihat sebenarnya. Setelah mereka diberi kesempatan untuk torok, mereka bisa torok lebih baik daripada yang lebih tua (tetua).”
Regenerasi Budaya
Soal pewarisan kebudayaan, sesungguhnya nenek moyang orang Manggarai sudah menyampaikan itu dalam pelisanan yang ada goét Manggarai. Pelisanan dalam goét-goét itu semuanya memiliki arti regenerasi.
Di antaranya seperti goét serong dise empo – mbate dise ame, pede dise ende letang dise ema, paka na’ay ngger wa paka bembang ngger peang. Lalu, wakak betong asa manga wake nipu tae, muntung gurung pu’u manga wungkut nipu curup, tepo betong senggok manga wolo nipu tombo, bete pering pengge manga laro nipu jaong, keti pering weri manga rede repeng nggejek.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











