“Hanya kadang-kadang yang saya lihat, karena saya juga sering ke jalur-jalur perpipaan. Kami pengguna banyak yang egois, susah sekali memikirkan sesama pengguna yang lain.” Cerita Yohanes memulai pengalaman dan kesaksiannya.
Kami di sini yang saya lihat itu hanya pikir diri sendiri saja. Tidak peduli lagi dengan yang lain mau dapat air atau tidak. Karena di banyak lokasi pipa itu sengaja dilubangi. Lalu lepas begitu saja. “Kalau sudah begini kan tidak mungkin airnya mengalir sampai ke ujung pipa (tekanan berkurang atau hilang -pen).” Tutur Yohanes dalam bahasa Manggarai yang dikutip Senin, 14 Juli 2025.
Demikian Yohanes melanjutkan, belakangan ini saat dureng mereka lebih sering menimba air PDAM yang kondisinya kotor, keruh. Ia awalnya menduga kondisi itu dari sumbernya. Namun, ternyata ia menemukan fakta yang berbeda ketika, lagi-lagi ia menyusuri jalur perpipaan.
Faktanya, jelas Yohanes ada yang sengja atau tidak melubangi Pipa hingga tertimbun tanah berlumpur. Ada juga yang memutuskan sambungan sambungan Pipa saat menimba (di kebun -pen) lalu biarkan begitu saja, lupa sambung lagi.
“Pipa dari sumber itu agak tinggi (Setinggi Jerigen -pen), sementara pipa lanjutan setelah dilepas itu posisinya agak di bawah. Karena lupa disambung, air keruh itu pasti masuk dan mengalir sampai ke rumah pelanggan.”
Butuh Ketegasan Petugas
Demikian Yohanes, meminta petugas PDAM agar lebih tegas kepada masyarakat siapapun yang memotong jalur perpipaan.
Salahnya itu tidak mutlak di PDAM, kesalahan juga pada kami masyarakat yang masih kerap menganggap pipa-pipa air itu sebagai wae sosor.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









