Berpikir tentang hari esok telah menjadi kebiasaan orang Manggarai di masa lalu. Mereka meyakini bahwa terang hidup masa depan bergantung pada tindakan bijaksana hari ini. Karena itu, menabung adalah cara hidup yang bijaksana.
Nilai budaya itu terus dipraktikkan oleh Mikael Madel sampai hari ini.
Petani Kecil dengan Pikiran Besar
Mikael Madel adalah seorang petani sederhana yang tinggal di Kampung Pelus, Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Manggarai. Meski berpostur tubuh kecil, cara berpikirnya sangat visioner.
Mimpi itu tumbuh dari pengalaman masa lalunya. Ia mengingat hidupnya saat kecil: orang tuanya miskin dan mengalami gangguan pikiran. Ia sering ditinggalkan, susah makanan, dan rumahnya dulu sangat memprihatinkan, beratapkan ijuk.
Namun Mikael tidak pernah marah pada keadaan. Ia menerimanya tanpa dendam. Bahkan sejak kecil, ia sudah belajar berpikir dewasa. Pada tahun 1980-an, ketika masih duduk di bangku SD kelas 4, ia mengajak teman-temannya membangun rumah sederhana: beratap alang-alang, berdinding bambu, berukuran 4 meter x 5 meter. Rumah sederhana yang dibangun pada tahun 1980-an itu adalah rumahnya sendiri.
Dari sana tumbuh semangat gotong royong, kebersamaan, dan keyakinan bahwa masa depan bisa diperjuangkan.
Kerja Keras yang Berbuah Nyata
Kesungguhan dan konsistensi Mikael dan istrinya untuk fokus pada usaha sayuran, kambing, dan sapi tidak sia-sia. Perlahan mereka hidup berkecukupan secara finansial. Bahkan mereka mampu membeli 14 bidang tanah sebagai aset keluarga.
Selain itu, dalam anggaran pengeluaran keluarga, Mikael dan istrinya telah menetapkan tabungan sebagai prioritas utama. Keputusan ini mereka ambil karena biaya pendidikan sangat besar. Hasilnya nyata: tiga anaknya telah menamatkan perguruan tinggi dengan biaya yang sangat besar, sementara satu orang anak lainnya menyelesaikan kursus keterampilan pada periode 2011–2024.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







