Kebun 8 Are yang Menjadi Tempat Harapan
Konsekuensi dari mimpi besar itu jelas: tidak ada cara lain selain bekerja lebih keras. Mikael pun memutuskan untuk mengusahakan kebun sayur di atas lahan seluas 8 are. Kebun itu tidak lagi sekadar lahan pertanian, tetapi tempat tumbuhnya harapan bagi masa depan keluarga.
Ia menjadikan budaya Manggarai sebagai pegangan. Baginya, orang Manggarai pada masa lalu mampu menghasilkan peradaban yang kuat. Jika nilai kerja keras itu dihidupkan kembali, kesejahteraan bukanlah mimpi yang jauh.
Karena itu ia menghayati nilai adat Manggarai yang dikenal dengan ungkapan “duat gula wee mane”—pergi bekerja pagi-pagi dan pulang sore hari. Nilai itu tidak ia jadikan slogan, tetapi ia hidupi sebagai cara hidup.
Setiap hari Mikael bangun pukul 5 pagi. Pukul 6.30 ia mulai mengurus pakan 18 ekor kambing dan 2 ekor sapi, lalu berangkat ke kebun. Ia bekerja tanpa mengeluh, sebab ia tahu siapa yang sedang ia perjuangkan: keluarganya.
Belajar Pertanian Organik dan Pemasaran Berjejaring
Sejak tahun 2005, ketika ia mulai berteman dan belajar bersama Yayasan Ayo Indonesia, Mikael semakin mantap mengelola sayuran dan ternak sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bersama Yayasan Ayo Indonesia, Mikael belajar tentang penerapan pertanian organik pada sayur dan strategi pemasaran berjejaring. Pengetahuan ini memperluas cara pandangnya. Ia semakin memahami bahwa pertanian bukan hanya soal menanam, tetapi juga soal kualitas produksi, manajemen, dan jaringan pasar.
Keputusan itu ia ambil dengan sadar, sebab ia tidak mungkin menjadi pegawai karena hanya menamatkan sekolah dasar. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya menyerah. Ia memilih mengolah tanah dan membangun masa depan dari apa yang ia miliki.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







