Suami Istri Harus Jalan Bersama
Menurut Mikael, mimpi besar tidak akan terwujud jika suami dan istri berjalan sendiri-sendiri. Ia menegaskan bahwa suami istri harus bekerja sama untuk mewujudkan mimpi keluarga.
Ia juga mengatakan bahwa pertengkaran dalam keluarga adalah hal yang wajar. Perbedaan pandangan pasti terjadi ketika berdiskusi. Namun pertengkaran itu bukan untuk mematikan semangat melangkah, melainkan bukti bahwa suami istri sedang berjalan bersama menuju masa depan.
Bagi Mikael, pertengkaran bukan untuk memisahkan, tetapi justru untuk mempersatukan.
Ia menekankan pentingnya kebiasaan “bantang” dalam budaya Manggarai, yang berarti berdiskusi atau bermusyawarah. Bantang harus menjadi kebiasaan dalam hidup berkeluarga. Dalam bantang, pasangan bukan dipandang sebagai lawan, melainkan sebagai penopang spirit dan sahabat seperjalanan.
Karena itu, ia menegaskan bahwa doa sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, memohon kehadiran Roh Kudus setiap hari menjadi sumber kekuatan agar keluarga tetap bersatu dan tidak mudah goyah.
Pesan ini disampaikannya dalam kegiatan lejong bersama anggota Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Sahabat Lentang pada tanggal 17 Januari 2026, bertempat di rumah Viktoria, Ketua KDD di Kampung Pelus.
Menabung: Warisan Bijaksana Orang Manggarai
Menariknya, Mikael menyadari bahwa literasi keuangan sebenarnya sudah lama dipraktikkan oleh orang Manggarai di masa lalu. Perilaku menabung sudah melekat pada orang tua dulu meskipun mereka tidak pernah diajarkan secara formal.
Dalam kehidupan sosial yang berbasis lejong (kebersamaan), lahir keputusan akal sehat bahwa setiap hasil dari kebun dan kandang harus disisihkan untuk memenuhi kebutuhan hari esok—pangan, sandang, papan—dan juga untuk masa sulit seperti paceklik.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







