“Berdasarkan survei yang saya lakukan, masyarakat mengeluh kesulitan mendapatkan makanan. Rata-rata mereka petani. Saat gempa, mereka tidak bekerja lagi,” jelasnya.

Tim menyalurkan bantuan dengan terlebih dahulu melakukan survei lokasi. Mereka juga meminta bantuan teman-teman di lapangan untuk mendata warga yang membutuhkan bantuan. Tim kemudian mengirimkan beras secara langsung ke lokasi terdampak.

Tim tidak menggunakan jumlah kepala keluarga sebagai dasar pembagian. Mereka menggunakan lokasi pengungsian, terutama tenda-tenda yang masyarakat bangun secara mandiri, sebagai dasar penyaluran bantuan.

Ringankan Beban dan Pulihkan Aktivitas Warga
Bantuan 1-ton beras tersebut memberikan dukungan bagi korban gempa dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Dalam jangka pendek, bantuan tersebut membantu masyarakat mengurangi beban kebutuhan pokok ketika mereka belum dapat kembali bekerja secara normal.
Ismail berharap solidaritas seperti ini terus tumbuh sehingga masyarakat terdampak tidak menghadapi kekurangan kebutuhan dasar selama proses pemulihan.

Salah seorang penerima bantuan, Bapa Arsi dari Lingko Ngorok, menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang mereka terima.
Ia bersama warga juga mendoakan agar Ismail dan rekan-rekannya dapat menjalani studi dengan lancar.
Pendidikan Mengajarkan Empati
Bagi Ismail, kegiatan sosial tersebut memiliki hubungan erat dengan dunia pendidikan yang ia tekuni.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk kepedulian terhadap sesama.
“Pendidikan bukan hanya belajar tentang pengetahuan. Pendidikan itu belajar tentang empati dan solidaritas,” katanya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












