Ia menambahkan, soal tuntutan keamanan bagi masyarakat seperti yang disyaratkan KfW sebenarnya itu juga yang menjadi permintaan warga pendukung proyek Geothermal. Sebab, sesungguhnya, yang terjadi di Poco Leok kelompok-kelompok penolak ini terus melakukan intimidasi terhadap kami yang yang mendukung.
Ada beberapa peristiwa intimidasi yang kami alami dan sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian tapi hingga kini belum ada kejelasan penanganannya. Beberapa rumah dirusaki, dilempari batu dan sebagainya. Bahkan, saat acara sambut baru rumah orang yang mendukung proyek itu dilempari batu.
Hal, lain lanjut Christianus kelompok penolak itu suka bergonta ganti nama dalam menyuarakan aspirasinya. Dulu, mereka menamakan aliansi masyarakat adat karena mungkin AMAN diakui negara, sekarang berubah lagi jadi komunitas masyarakat adat, besok mungkin akan berubah lagi demi kepentingan pihak luar yang menggagalkan proyek Geothermal di Poco Leok.
Bahkan, sekarang fenomena baru di Poco Leok untuk menjadi tua adat itu dilakukan secara demokrasi, melalui voting. Bukan lagi sebagaimana lazim dalam budaya Manggarai berdasarkan garis keturunan tertua atau tertinggi.
Mirisnya, lanjut dia hal ini diinisiasi oleh orang yang selama ini dikenal sebagai tokoh, sebagai pemerhati budaya di Manggarai asal Nderu Poco Leok. Soal siapa orang ini saya kira semua nanti akan mengetahuinya. Ini sungguh miris mengubah tatanan budaya Manggarai demi akses menolak Proyek Geothermal.
Rekomendasi KfW
Diana Arango, Lead Coordinator in Energy Sector in KfW’s Jakarta office, menjelaskan kehadirannya saat ini untuk memverifikasi berbagai isu rencana pembangunan proyek Geothermal unit 5-6 Poco Leok di wilayah kecamatan Satar Mese yang tengah berproses saat ini.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







