“Salah satu episode paling signifikan dan simbolis dalam hubungan Turki-Israel adalah insiden Mavi Marmara pada Mei 2010. Insiden ini sebagian besar menentukan arah memburuknya hubungan bilateral antara kedua negara,” ujarnya.
Insiden tersebut merujuk Kapal MV Mavi Marmara yang menjadi bagian dari apa yang disebut “Armada Kebebasan Gaza”, yang bertujuan untuk menembus blokade laut Israel terhadap Gaza dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Misi Armada Kebebasan adalah untuk menembus blokade laut yang diberlakukan oleh Israel setelah Hamas berkuasa.
Israel memandang ini sebagai pelanggaran keamanan dan potensi ancaman. Negeri itu menyatakan bahwa kargo tersebut dapat digunakan untuk tujuan militer.
Selama operasi pencegatan, tentara Israel menaiki kapal di perairan internasional. Situasi meningkat menjadi konfrontasi kekerasan dan mengakibatkan kematian beberapa warga Turki.
“Hal ini memicu reaksi keras dari Ankara, dengan para pejabat Turki mengutuk tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut permintaan maaf resmi, kompensasi bagi keluarga korban, dan pencabutan blokade di Gaza,” ujarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






