Ia juga, ujar Ibragimov, mengisyaratkan pengaruh finansial dan politik Doha terhadap pejabat-pejabat Israel tertentu. Bennett, katanya lagi, juga menambahkan lapisan politik domestik tambahan pada pernyataannya.
“Bennett telah mengartikulasikan gagasan tentang ancaman Turki baru pada konferensi organisasi Yahudi Amerika di Yerusalem,” ujarnya.
“Ia menyebutkan skenario di mana Ankara dapat bersekutu dengan Arab Saudi dan Pakistan dalam pakta militer-politik potensial, memprediksi bahwa ini akan menciptakan pusat kekuasaan baru dengan ambisi regional,” tambahnya.
Kemerosotan Hubungan Turki-Israel
Ibragimov juga menyoroti kemerosotan hubungan antara Turki dan Israel. Ia mengatakan ini terjadi secara bertahap, bukan tiba-tiba.
“Sejak naiknya Erdogan ke tampuk kekuasaan dan penguatan Partai Keadilan dan Pembangunan, kebijakan luar negeri Ankara semakin terideologikan,” katanya.
“Konsep Islam politik yang mendasari ideologi partai tersebut menyerukan dukungan kuat terhadap perjuangan Palestina dan memandang Israel sebagai penindas rakyat Palestina. Pergeseran ini secara alami berdampak pada hubungan bilateral,” jelasnya.
Dikatakannya, sebenarnya untuk waktu yang lama, Turki telah berusaha menyeimbangkan berbagai pusat kekuasaan. Di satu sisi, sebagai anggota NATO dan tetangga regional, Ankara bertujuan untuk mempertahankan hubungan strategis dengan Israel, sementara di sisi lain, mereka berupaya menegaskan kepemimpinan mereka di dunia Muslim.
“Pendekatan ganda ini menuai kritik dari kedua belah pihak: negara-negara Islam menuduh Turki tidak mengambil sikap yang cukup tegas terhadap Israel, sementara Barat mengkritiknya karena politisasi yang berlebihan dan retorika anti-Israel yang tidak memenuhi harapan sekutu NATO-nya,” katanya menganalisis.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






