Ruteng, infopertama.com – Kelompok Penerima Bantuan (KPB) Program TEKAD di Desa Ponggeok, Kabupaten Manggarai, melaksanakan Sekolah Lapang Penyulingan Minyak dari buah dan bunga cengkeh sebagai langkah strategis meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan desa.
Kelompok yang beranggotakan 15 orang ini memperoleh dukungan dana demplot sebesar Rp100 juta untuk pengembangan unit penyulingan minyak cengkeh. Bantuan tersebut menjadi modal awal dalam membangun usaha produktif yang dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.
Koordinator Kabupaten Program TEKAD (Fasilitator Kabupaten Manggarai), Largus Ogot, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi ekonomi desa melalui penguatan kapasitas kelompok usaha masyarakat.
“Program TEKAD hadir untuk mendorong masyarakat desa agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan. Melalui penyulingan minyak cengkeh, kelompok tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai tambah,” ujar Largus.
Kegiatan sekolah lapangan yang dilaksanakan pada Selasa (3/3/2026) tersebut diisi dengan praktik langsung proses penyulingan menggunakan alat destilasi yang telah disiapkan melalui dana demplot.
Para anggota kelompok terlibat dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari persiapan bahan baku, pengaturan suhu pemanasan, proses penguapan dan kondensasi, hingga pengukuran hasil minyak yang diperoleh.
Sementara itu Petugas Penyuluh Teknis proses penyulingan, Yuvensius Janggat, menjelaskan bahwa kualitas minyak cengkeh sangat ditentukan oleh ketepatan proses produksi.
“Kunci kualitas minyak cengkeh ada pada kontrol suhu dan bahan baku yang digunakan. Jika prosesnya tepat, rendemen dan mutu minyak akan lebih baik. Ini yang terus kami dampingi agar kelompok bisa mandiri,” jelas Yuvensius saat mendampingi praktik lapangan.
Selain pelatihan teknis, peserta juga dibekali pemahaman tentang manajemen usaha, standar mutu produk, serta strategi pemasaran.
Sementara itu, Ketua KPB Ponggeok Rinaldi, Ronaldus Slano menyampaikan bahwa program ini memberikan dampak nyata bagi petani dan masyarakat desa.
“Program ini sangat menguntungkan petani cengkeh karena kami bisa meningkatkan nilai jual hasil panen melalui penyulingan. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang penyerapan tenaga kerja muda di Desa Ponggeok,” ungkap Ronaldus.
Dengan adanya unit penyulingan ini, petani tidak lagi hanya menjual cengkeh dalam bentuk kering, tetapi dapat mengolahnya menjadi minyak atsiri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Kelompok pun optimistis mampu memasarkan produk minyak cengkeh baik di pasar lokal maupun nasional.
Melalui dukungan Program TEKAD, KPB Ponggeok diharapkan menjadi contoh pengembangan usaha minyak atsiri berbasis desa di Kabupaten Manggarai, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

