Segalanya Berawal dari Pendidikan

Pendidikan
patung berpikir (Perancis: Le Penseur) sebagai lambang Filsafat

(Kritisi Pemikiran M. S. Forbes: Pendidikan yang Memerdekakan)

Oleh: Sobe Milikior*

“Pendidikan bukanlah segalanya, tapi segalanya berawal dari pendidikan. Pendidikan adalah matahari yang menghidupkan segala sesuatu di bumi. Perjuangan menjadi fondasi sekaligus semangat menggapai cita-cita mulia. Lalu, mengapa pendidikan penting di atas segalanya?” _ Sobe Milikior.

Pendidikan yang baik tidak selalu menjamin kesuksesan atau masa depan yang baik. Akan tetapi, Pendidikan yang baik akan menjadi bekal dan modal penting untuk menjalani dinamika masa depan. Mengejar masa depan yang lebih baik dengan pendidikan yang memadai terkadang masih menjadi mimpi bagi sebagian generasi muda bangsa ini.

Bakat, minat dan potensi unggul terkadang tidak cukup mampu mengantarkan mereka meniti jalan emas pendidikan tinggi. Tentu, kondisi ini perlu mendapatkan atensi serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun selain pemerintah. Yang terpenting, kondisi tersebut hendaknya tidak menjadi kendala bagi individu yang mengalaminya, tetapi sebaliknya, justru menjadi motivasi dan penyemangat langkah dalam meraih aspirasi dan cita-cita.

Malcolm Forbes mengatakan pendidikan adalah untuk mengubah pikiran yang kosong menjadi pikiran yang terbuka (Inggris: The purpose of education is to replace an empty mind with an open one).

Pendidikan
(sumber: pustaka pribadi Forbes_sobe library)

Mengenal Forbes

Malcolm Stevenson Forbes adalah adalah penerbit majalah Forbes 1957-1990. Dia adalah orang yang dikenal dengan bisnis dan gaya hidup mewahnya. Ia adalah generasi kedua penerus Majalah Forbes. Majalah Forbes sendiri didirikan oleh ayahnya BC Forbes dan hari ini dijalankan oleh anaknya Steve Forbes.

Forbes lahir di Brooklyn pada 19 Agustus 1919 dari ayah, BC Forbes dan ibu, Adelaide Stevenson. Dia adalah lulusan dari Sekolah Lawrenceville dan Princeton University. Setelah berkecimpung dalam politik, termasuk menjadi Senat di New Jersey 1951-1957 dan sempat mencalonkan diri sebagai Gubernur New Jersey, ia berkomitmen penuh untuk melanjutkan bisnis keluarganya mulai tahun 1957, yakni tiga tahun setelah kematian ayahnya. Setelah kematian saudaranya Charles Bruce Forbes pada tahun 1964, ia adalah pengontrol tunggal perusahaan tersebut.

Majalah ini terus tumbuh di bawah kepemimpinannya, dan ia juga memverifikasi penjualan real estate dan usaha lainnya. Salah satu proyek terakhir sebagai majalah Egg, yang mencatat rentetan kehidupan malam kota New York. Malcolm Forbes memiliki gaya hidup mewah, di tandai dengan kepemilikan Trijet Boeing 727, kapal layar Highlander, koleksi-koleksi seni besar, Harley Davidson, dan Chateau di Perancis. Forbes juga terkenal karena pesta ulang tahunnya yang selalu dirayakan dengan mewah. Pada ulang tahunnya yang ke 70, ia menghabiskan lebih dari USD 2,5 untuk merayakan ulang tahunnya.

Forbes menikah selama tiga puluh sembilan tahun bersama Roberta Remsen Laidlaw, sebelum akhirnya mereka bercerai pada tahun 1985. Pasangan itu memiliki lima anak: Malcolm S. Jr, Robert Laidlaw, Christopher Charles, Timothy Carter, dan Moira Hamilton. Forbes meninggal pada tahun 1990 karena serangan jantung, di rumahnya di Far Hills, New Jersey.

Malcolm Forbes pernah berkata, “Education’s purpose is to replace an empty mind with an open one”, bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah mengubah pikiran yang tadinya hampa menjadi terbuka. Forbes tidak mengatakan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk mengisi pikiran kosong dengan segala pengetahuan, kebenaran dan apalagi doktrin atau dogma. Pandangannya jelas dan sangat bijaksana bahwa pendidikan sesungguhnya bukanlah proses menggurui atau memaksakan kebenaran pada sesoerang atau sekelompok orang.

Pendidikan Menurut Forbes

Menurut saya bahwa Data (data) diolah menjadi informasi (information) yang kemudian dipelajari sehingga menjadi pengetahuan (knowledge). Tiga hal penting ini menjadi mata rantai dalam pendidikan. Orang yang memiliki pengetahuan adalah salah satu hasil dari proses pendidikan. Orang menyebut mereka ‘pintar’.

Namun begitu, berpengetahuan saja tidak cukup sebelum ada kesadaran untuk melaksanakan pengetahuan itu. Orang yang paham betul bahwa korupsi akan merusak negara tidak akan banyak gunanya kalau dia tidak memiliki kesadaran untuk tidak melakukan korupsi. Maka dari itu, mata rantai terakhir dari proses pendidikan adalah kebijaksanaan atau (wisdom).

Data yang ada harus diolah menjadi informasi yang menjadi pengetahuan untuk kemudian mengejawantah dalam bentuk kebijaksanaan. Tentu saja kebijaksanaan yang paling nyata adalah tindakan.

Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan
Foto cover buku Alberthine Endah

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Demikian ungkapan dari sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Anata Toer.

Generasi bangsa Indonesia perlu memaknai arti kemerdekaan. Pengalaman sebagai masyarakat bangsa Indonesia yang sudah merdeka meski selalu diisi dengan kebaikan. Selalu berbuat baik kepada sesama dan berjuang tanpa henti meraih masa depan yang lebih baik.

Presiden Joko Widodo mengatakan, “Saya tidak mengatakan Indonesia berada dalam kegelapan. Namun, seharusnya cahaya lebih banyak menyinari negeri ini. Banyak hal buruk kita biarkan. Banyak hal berpotensi tak kita gali. Mungkin selama ini kita tak berani, atau tak percaya bahwa cahaya itu ada.”

Memimpin bukanlah tentang apa yang akan diperoleh dan dirasakan sang pemimpin. Memimpin adalah tentang apa yang bisa diperoleh dan dirasakan rakyat berkat cara kerja sang pemimpin.

Pendidikan menjadi hal yang fundamental dan mampu memerdekakan manusia Indonesia dari segala bentuk penjajahan. Perubahan meski lahir dari pendidikan yang baik sehingga segalanya bisa sukses dan tentu rakyat akan mengalami hidup sejahtera.

PAUD MADU Poco Jalan Menuju Cahaya

Pendidikan anak usia dini (Paud) menjadi satu kesatuan hidup manusia menuju kejayaan eksistensi manusia sendiri. Ketika pendidikan mulai dari kecil, maka karakter, ilmu pengetahuan dan mental anak-anak bangsa sedang siap menuju cahaya. Pendirian PAUD MADU di desa Poco kecamatan Wae Ri’i Kabupaten Manggarai NTT adalah sebuah gebrakan pemerintah Desa untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara Indonesia ini.

Konsep perubahan, sedang dan harus mulai dari sini, di tempat ini dan tentu muncul dari seluruh lembaga pendidikan yang tersebar pada wilayah Manggarai. Dengan demikian, negeri ini pasti akan dilimpahkan cahaya ketika kita berhasil menguak kabut. Dan kita sedang berada di dalam proses itu. Menuju Indonesia yang lebih baik.

Segalanya berawal dari pendidikan sebagai sebuah gugatan proses pencapaian sumber daya manusia (SDM) yang tinggi. PAUD MADU sebagai satu wadah untuk mempersiapkan diri menuju cahaya pendidikan yang lebih baik demi kesejahteraan masyarakat desa Poco khususnya dan tentu, demi kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

*Penulis anak desa Ndehes kecamatan Wae Ri’i. Aktif menulis pada media online dan cetak, menulis buku. Beliau juga staf SDM LPPKPD Manggarai Flores NTT dan pendiri Forum Peduli HAM Manggarai.