Sebulan Pasca Gempa 7,7 SR, Manggarai Masih Hadapi Pengungsian Massal dan Lonjakan Kasus Kesehatan

Lonjakan Kasus ISPA, Diare, dan Gigitan Hewan Penular Rabies

Dinas Kesehatan bersama tim medis lapangan mencatat 19.459 kunjungan pasien selama 25 hari pemantauan pascabencana. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan batuk mendominasi keluhan warga akibat kondisi tenda pengungsian yang terbuka dan rentan terhadap cuaca dingin.

Selain itu, lonjakan kasus diare terpantau meningkat tajam akibat keterbatasan akses air bersih dan sanitasi layak di area pengungsian. Pihak berwenang juga mencatat kenaikan signifikan pada kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang mencapai sekitar 90 kasus, serta peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes di kalangan lansia dan orang dewasa.

Tantangan Berat pada Kelompok Rentan

Subklaster Kesehatan Reproduksi melaporkan adanya kerentanan tinggi di kalangan kelompok prioritas, yang mencakup 1.478 ibu hamil, 79 ibu bersalin, serta ratusan bayi dan balita. Sejumlah persalinan terpaksa dilakukan di tenda darurat dengan fasilitas minim. Krisis ketersediaan obat esensial penyelamat jiwa—seperti obat pencegah preeklampsia (MgSO4, Nifedipin), obat bius lokal (Lidocain), hingga sirup penurun panas anak—menjadi tantangan mendesak yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya telah menetapkan Status Tanggap Darurat yang diperpanjang guna mempercepat mobilisasi bantuan logistik, pemulihan fasilitas umum, serta penanganan darurat kesehatan secara terpadu di seluruh wilayah terdampak di Kabupaten Manggarai.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel