(sekadar satu perenungan)
Injil Lukas 24:35-48
“Memang sulit untuk mendengarkan, saat cenderung untuk terus saja berbicara dan berbicara terus….”
(cf Rachel Cusk – penulis)
Pater Kons Beo, SVD
Tak sulit sebenarnya temukan orang yang balagak sudah tahu semua. Rasa diri punya banyak pengetahuan dan anggap diri punya pikiran tajam, walau belum saja terbukti atau mungkin nyatanya tidak, sudah jerumuskannya dalam arogansi akal budi.
Lawan bicara belum selesai bicara, si pemikir ini sudah pada sergap mencela. Dan ia bahkan tak kendali diri untuk segera ambil alih kemudi bicara. Belum pada ikuti isi pikiran dan bagaimana alur bicara sesama secara utuh, si pemikir yang pongah sudah pada ‘lari lewat’ duluan untuk tiba pada kesimpulan. Dan tampak kelewat percaya diri walau pada simpul akhir yang rancu dan eror pula.
Yang rasa diri cerdas pikiran, sering dengan angkuh pula berceloteh, “Saya ini baru baca judul saja, saya tu sudah tahu semua isinya….” Hae, Bro. Sombong tu ada model sedikit dan ada garis pinggir sadikit ka….
Kira-kira begitulah tanggapan balik umumnya.
Dalam dialog, dalam dengar pendapat, saat berdebat, atau dalam hambur-hambur komentar melalui jejaring WA Group, misalnya, terendus jelas betapa para oknum yang rasa diri hebat dalam berpikir dan berpendapat ini tak sanggup sembunyikan kearogansiannya.
Mari tengok di rana lain…
Dalam keluarga, orangtua berkeluh tentang anak yang tak ambil pusing untuk mendengarkan. Kenyataan ‘siapa mau dengar siapa’ kini terperangkap dalam gejolak apatis. Ada tendensi ketakpedulian penuh cuek. Sebab orang bisa ‘cuek malas tahu’ akan sesuatu yang indah dan berharga yang sepatutnya didengarkan dan dimiliki.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






