Saat Merasa Diri Sudah Tahu Semua…

Pada kisah berikutnya, amati saja sekiranya pertengkaran jadinya tak terhindarkan. “Baku ambil kata” itu isyaratkan telinga dan pikiran yang tertutup. Sebab dalam suasana khaos seperti itu, orang hanya berpatok pada pikiran dan rasa hatinya sendiri. Barangkali tak hanya itu….

Menjadi semakin rumit saat seseorang sekian ‘tanam kaki’ untuk agungkan pikirannya sendiri, dengan mencukur gundul kata, pikiran dan rasa hati sesama dengan gaya dan senjata ad hominem atau teror vulgarism verbal.

Ini rumitnya saat orang menjadi tak cerdas serentak tak bijak dalam bersuara dan berkata. Bahkan sekiranya juga melenceng dari etika situasional. Lihat pula bahwa orang ‘rasa diri benar’ saat suara terasa lebih menggelegar pula bahkan sambil mengayunkan kepalan tinju. Dan yang lain? Semuanya mesti  diam membisu. Dibuat ‘mati kutu dan mati langkah’ dengan gertak.

Selayaknya….

Kita tak boleh kehilangan momentum penuh teduh nan hening. Di situlah, sumber suara kita mesti dikatup. Pikiran onar yang berkeliaran mesti dirantai. Gemuruh badai perasaan di dalam dada mesti diredakan. Kita memang dituntut untuk ciptakan alam dan nuansa kontemplatif. Dan bukan kah, “kontemplasi itu menuntut ketenangan pikiran dan waktu?” Dan itu mesti membebaskan kita dari berbagai belitan kesibukan.

Si bijak ingatkan, “Salah satu krisis kebenaran ialah bahwa hidup kita begitu tergesa-gesa dan sangat sibuk sehingga kita tidak punya waktu untuk melihat satu sama lain dan sesuatu dengan tepat.” Dan katanya lagi, “Sejauh ini kesibukan dengan kebenaran sebagai akuntabilitas hanyalah berarti kita  menggunakan banyak waktu untuk mengisi formulir, membuat laporan, mengumpulkan statistik, tetapi kita tidak punya waktu untuk membuka mata kita dan melihat.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel