Dan akibatnya?
Apa yang kita isi dalam formulir, apa yang kita rancang sebagai laporan, apa yang kita kumpul sebagai bahan statistik, sungguh diperjuangkan sebagai kebenaran dan keharusan. Dan mirisnya, bahwa dunia dan sesama acapkali bisa diakali dan bahkan dipaksa untuk menerima dan mengakuinya.
Bagaimana pun, harus kah kita menatap dunia penuh pesimistik? Dan tanpa harapan? Tidaklah! Kita tetap dipanggil untuk menatap dunia dengan rendah hati dan jernih. Lebih dari semuanya, kita bakal masuk dalam alam spiritualitas kebenaran. Di situlah, siapapun diajak untuk ‘berjedah sejenak, menenangkan diri, dan membiarkan hati dan pikiran terbuka.’
Mari merenung kisah Injil
Ada pikiran tak karuan dalam diri para murid. Kisah tragis Yesus, sang Guru, masih terasa membekas duka teramat dalam. Namun, ada harapan untuk memahami sang Guru dalam terang baru. Itu teralami saat kisah Yesus di perjalanan ke Emaus itu diwartakan oleh dua murid. Iya, saat keduanya, “menceritakan kepada saudara-saudara yang lain apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti” (Luk 24:35). Kita pun pada maklum:
Kualitas komunio-kebersamaan itu bukanlah soal ‘ada bersama, kedekatan jarak, atau tinggal bersama secara fisik.’ Bukan! Kemendalaman kualitas relasi tertata dalam dinamika ‘saling berkisah dan terlebih saling mendengarkan.’ Di situlah, ketulusan dan kerendahan hati mesti dikobarkan.
Para murid yang dikepung oleh kekalutan hati, kini mesti berhadapan dengan Yesus, Sang Guru. Yesus tak hanya hadir dalam banyak penampakan. Pun tak hanya nyata dalam tindakan-tindakan yang meyakinkan. Tetapi bahwa Yesus, Tuhan, hadir dalam KATA-KATANYA yang mencerahkan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






