”Jadi, lebih memberi pengetahuan tentang pengetahuan memimpin dan manajerial, skill, maupun teknikal. Jadi, bukan seperti latihan-latihan tentara begitu. Ada senam, tetapi pagi saja,” katanya.
Pelaksanaan orientasi secara bertahap itu pun dinilainya lebih efektif dan efisien. Sebab, jika dilakukan hanya sepekan, materi yang akan disampaikan kurang mendalam.
Dengan pelaksanaan secara bergelombang, anggaran yang dibutuhkan pun bisa bertahap. Sebab, biasanya dana APBN tidak tersedia langsung sekaligus dalam jumlah banyak. Jika retret dilakukan secara mendadak tanpa ada kesiapan pendanaan, ia khawatir pelaksanaannya akan kocar-kacir dari sisi sumber pembiayaan.
Terlebih, saat ini pemerintah sedang menggalakkan program penghematan atau efisiensi anggaran negara sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Dalam inpres tersebut diatur mengenai pembatasan perjalanan dinas dan seremonial. Namun, dengan rencana retret secara bersamaan di Akmil Magelang, justru hal-hal yang dilarang dalam inpres itu akan dilakukan oleh pemerintah pusat. Hal ini dinilainya kontradiktif dan inkonsisten.
”Biaya perjalanan dinas kepala daerah ke Akmil Magelang itu, kan, pasti juga tetap ada yang dari APBD. Karena lokasi dan jarak tempuh masing-masing berbeda. Nah, bagaimana itu laporan pertanggungjawaban dari APBD? Karena dilarang perjalanan dinas di Inpres No 1/2025,” kata Djohermansyah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







