Jumat, 19 Agustus 2022
Hari Biasa, Pekan Biasa XX
Yeh. 37:1-14; Mzm. 107:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 22:34-40
[Thn. V/VIII/230/2022]
Marilah kita berdoa: YA YESUS, SANG PEMILIK KASIH YANG SEJATI, Engkau telah meletakkan benih Kasih di dalam hatiku, agar aku selalu memiliki kerinduan untuk mengasihiMu dan juga tergerak hati untuk mengasihi sesama, sebab tidak mungkin aku hanya mengasihiMU dan mengabaikan sesama di sekitarku. Siramilah denan embun KasihMu bagi benih Kasih ini, agar hidup, bertumbuh dan berbuah dalam hidup harianku, kini dan selama-lamanya, Amin.
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus untuk mencobai Dia, “Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Mengasihi Allah dan Sesama
Caramu mengasihi ALLAH akan nampak dalam caramu mengasihi sesama. Mengasihi ALLAH adalah sebuah keharusan, pun juga dalam mengasihi sesama. Tidak ada kata tidak untuk sebuah KASIH yang harus diwujudnyatakan. Kapan, dimana dan bagaimana situasinya, KASIH itu harus me-nyata-kan dirinya.
Sahabat SENDAL SERIBU yang terkasih,
Seluruh hidup kita adalah cara ALLAH menunjukkan kasihNYA kepada kita. Butuh kesadaran dan kebeningan hati untuk menyadari betapa ALLAH sangat mengasihi kita sebab kita harus sadari ini bahwa sebelum kita mengasihi Allah, Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Keberadaan kita saat ini, napas kehidupan yang masih kita hirup saat ini adalah tanda nyata Allah mengasihi kita. Satu yang DIA minta, membalas kasihNYA dengan mengasihiNYA. Sederhana dalam kata tapi sungguh sukar dalam tindakan setiap hari. Kita belum sungguh mengasihi ALLAH dengan kasih yang total dan denan seluruh jiwa raga kita. Hati, pikiran dan jiwa tidak semuanya diserahkan untuk mengasihi ALLAH. ALLAH dinomorduakan di dalam hidup kita.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






